Senja
mulai bergulir yang seolah bersenandung mengiringi pergantian sang malam.
Merpati putih berterbangan di angkasa mengitari langit jingga. Aku duduk
termenung di bawah pohon mangga depan rumahku dengan ditemani lantunan musik
penghangat jiwa yang kuputar di ponselku. Walau mentari semakin tenggelam tapi
sekelompok anak kecil masih asik bermain bola di tengah indahnya cakrawala
senja. Kupandangi satu persatu dari mereka, kuamati setiap pergerakannya
sembari mengenang sosok diriku 10 tahun yang lalu. “Betapa damainya hidup
mereka, seolah tanpa beban. Andaikan aku bisa memutar sang waktu untuk bisa
kembali ke masa itu.” pikirku dalam hati.
Sesaat aku tersadar dari lamunanku aku sadar sangat mustahil untuk bisa
kembali ke waktu lampau kecuali aku punya pintu kemana saja seperti
cerita-cerita yang ada di kartun favoritku “doraemon”.
Kulihat jam yang melingkar di lengan
kiriku, ternyata sudah hampir jam 6 dan itu tandanya adzan maghrib akan segera
berkumandang. Anak-anak yang sedang bermain pun satu persatu berhamburan pulang
kerumah masing-masing. Akupun segera masuk ke dalam rumah.
Beberapa menit kemudian adzan maghrib
berkumandang. Segera kulangkahkan kaki untuk mengambil air wudhu dan
melaksanakan ibadah wajibku sebagai umat muslim. Selesai shalat aku bersimpuh
di hadapan-Nya, mengucap syukur atas nikmat dan karunia-Nya serta memohon
ampunan untuk segala dosa yang pernah kuperbuat selama ini. Dan tidak lupa
berdoa untuk keselamatan ayah dan ibu yang sedang berjuang keras bekerja di
sebrang sana. Sudah hamper 3 tahun orang tuaku tidak tinggal bersama aku dan
adikku. Mereka rela pergi jauh memendam dalam-dalam kerinduannya demi bisa
mencukupi kehidupan anak-anaknya. Terkadang air mata kerinduan menetes saat
teringat akan perjuangan mereka. Perjuangan yang memang tanpa batas, tanpa
mengenal lelah dan tanpa keluhan. Hanya senyuman dan untaian kata penuh sayang
yang senantiasa mereka tunjukkan kepada anak-anaknya. Merekalah teladan dan
penyempurna hidupku.
Saat ini aku duduk di kelas XII SMA N
1 Sambit Ponorogo. Banyak tugas yang harus kuselesaikan malam ini juga.
“Haruskah aku lembur lagi malam ini?” keluhku dalam hati sambil mempersiapkan
buku pelajaran untuk esok hari. Entah kenapa malam ini pikiranku sedikit kacau
melihat tumpukkan tusas di hadapanku. Bingung mana yang harus terlebih dahulu
kuselesaikan. Tiba-tiba ponselku bergetar tanda ada pesan masuk. Kubuka pesan
tersebut, isinya “semangat ya yung !! kamu pasti bisa kok, gak usah galau terus
:-D”. sepotong kalimat semangat dan senyum dari sahabat cukup membangkitkan
semangat yang tadi sempat pudar. “Thanks cuyung J” balasku.
Malam
semakin larut suasana semakin sunyi, suara kodok yang sedari tadi bersenandung
riang di belakang rumah pun perlahan menghilang. Tugasku belum juga selesai
padahal ini harus di kumpulkan besok. Kegalauan mulai meracuni pikiranku.
Mataku sudah semakin lemah untuk menatap setiap tulisan yang aku tulis. Setelah
berjam-jam bertempur melawan rasa kantuk akhirnya semua tugasku selesai. Semoga
hasilnya bisa se maksimal usahaku. Belajar sudah, tugas-tugas beres, waktunya
berkelana di dunia mimpi. Kutarik selimut dan seketika langsung terlelap.
Silau mentari pagi berebut masuk
melalui celah-celah jendela kamar. Suara kokokkan ayam membangunkan tidur
lelapku. Dengan masih setengah sadar kusempatkan menatap jam yang menempel di
dinding kamarku. Kuamati perputaran jarumnya secara perlahan, betapa
terkejutnya ternyata sudah pukul 6
tepat. Segera ku beranjak dari kasur, kemudian mengambil handuk dan bergegas
menuju kamar mandi. “Aaawwwwww. . .”
jeritku. Karena tergesa-gesa dan tidak hati-hati aku terpeleset di pintu kamar
mandi. Walau rasanya sakit sekali tapi tetap kupaksakkan untuk berdiri sambil
terus mengaduh kesakitan.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul
06.45 WIB. Setelah berpamitan dengan kakek, aku segera berangkat ke sekolah.
Kali ini langkahku lebih cepat dari biasanya, karena kelas dimulai pukul 7
tepat dan aku tidak mau terlambat untuk mengikuti KBM hari ini walaupun
rintikkan hujan sedikit menghalangi langkahku. Aku tiba di gerbang sekolah
tepat saat bel tanda masuk berbunyi. Aku berlari dan segera masuk ke dalam kelas.
Seharian bergelut dengan buku-buku dan
pelajaran cukup membuat kepala terasa penat. Belum lagi siang ini harus ke
warnet untuk mengerjakan tugas. “Ayo Ulfa semangat semangat!!” bisiku dalam
hati. Terkadang aku berpikir ingin segera terlepas dari masa-masa yang cukup
memeras otak ini, tapi apa daya tidak ada yang bisa aku lakukan selain
menghadapi, menghayati dan menikmati masa perjuangan yang belum tentu semua orang
bisa merasakannya. Berharap semua akan bermuara sempurna di dalam lautan
kebahagiaan.
Di malam yang gelap tanpa bintang ini
tanpa sadar air mata sendu sudah membasahi pipi merahku. Entah mengapa
tiba-tiba aku teringat kejadian satu bulan yang lalu. Kejadian saat sang
pengelana cintaku dengan tiba-tiba mengakhiri hubungan yang belum lama kita
rajut bersama. Aku tak pernah mambayangkan ini semua terjadi, meski hanya dalam
mimpi buruk sekalipun. Aku tak percaya ketika mendengar kata perpisahan itu
keluar dari mulut seorang yang selama ini menghuni relungku. Kala itu hatiku
seakan terus menjerit, batinku tersiksa, kegalauan hati seolah meracuni jiwa.
Bibirku mampu berkata namun tatapan lembut mata ini tak mampu berbohong. Aku
memang sangat mencintainya, dia mampu merubah diriku menjadi lebih baik dari
sebelumnya. Entah hal apa yang membuatnya tega mengakhiri semua ini.
Berhari-hari aku dilanda kepedihan, aku memang belum ikhlas untuk membiarkan
cinta itu terbang begitu saja.
Sekarang
air mata ini menetes tiada arti lagi. Aku sadar untuk apa aku berlarut-larut
dalam ruang kesedihan. Layaknya pepatah “kumbang tidak hanya seekor, bunga
tidak hanya sekuntum” masih banyak lelaki lain selain dia. Lebih baik aku
bangkit dari kegalauan dan berjuang mewujudkan mimpiku untuk bisa melanjutkan
sekolahku ke jenjeng yang lebih tinggi.
Kini semua memang telah berubah tak
seperti dulu. Hubungan kami
memang telah berakhir, namun pertemanan kami tidak akan pernah berakhir dan
tetap terjalin indah layaknya pelangi yang memberi warna saat hujan reda.
Sayang. . . sadarkah kau sampai detik ini hatiku masih tetap untukmu, walau
dirimu sempat menorehkan luka dalam batinku.
Jemari lembut sahabatku mengusap air
mata yang sejak tadi membasahi pipiku.
“Sudahlah
masa lalu hanya perlu dikenang bukan untuk ditangisi. Kamu bisa lebih baik
tanpanya. Ingat besok kita ada tes wawancara, lebih baik kamu mempersiapkan
diri untuk besok. Kamu tidak mau kan impianmu gagal hanya karena air mata
kenangan masa lalumu?? Ayollah semangat sayang !! J” kata Anggun dengan penuh
senyum kekhawatiran akan diriku malam ini.
“Iya
yung aku tahu, tapi setidaknya air mata ini bisa sedikit melepas beban
kepedihan yang terpendam selama ini.” Jawabku sambil terus mencoba menahan
tetesan air mataku.
“Sudah
sudah sekarang senyum dan pikirkan impianmu !! Sudah malam, aku pulang dulu
ya.” Kata Anggun kembali menyemangatkanku.
“Iya
iya bawel, ya sudah kalau begitu hati-hati
ya !” jawabku.
Butir keringat terus membasahi kemeja
putih ini. Badan terasa kaku. Nafas naik turun seperti pompa. Degup jantung tak
bisa terkontrol. Aku mondar-mandir di depan pintu wawancara untuk menunggu
giliran masuk. Wawancara ini penentu masa depanku. Aku sudah berusaha semampuku
agar bisa masuk di PPNS (Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya) melalui jalur
bidik misi. “Aku pasti bisa” tiga kata sederhana yang menjelma menjadi semangat
yang membara.
Sekarang
giliranku. Kutarik nafas panjang untuk membuat pikiranku tenang. Akupun masuk
ke ruangan wawancara dan duduk di tempat yang telah di sediakan. Pertanyaan
demi pertanyaan aku jawab dengan penuh keyakinan dan harapan.
“Wawancara
selesai, di tunggu saja hasilnya 2 minggu lagi di website PPNS.” kata Pak Ari
dengan wibawanya.
“Siap
pak, apapun hasilnya akan saya terima.” jawabku sambil bersalaman dan segera
melangkahkan kaki meninggalkan ruangan.
Hari demi hari berlalu, hari ini
pengumuman hasil dari beberapa proses kemarin. Degup jantung seakan beradu, air
mata kebahagiaan turut menetes. Seakan tidak percaya namaku tercatat sebagai
calon mahasiswa bidik misi di PPNS, ternyata usahaku membuahkan hasil. Segera
ku ambil ponsel dan menelfon orang tuaku untuk memberitahu kabar gembira ini.
Sujud syukur kepada Sang Pencipta
seakan menggambarkan kontak batin ucapan terima kasih kepada-Nya. Menghadap kearah
penjuru kesucian, kepala menempel di lantai dengan hati sebagai kunci dan air
mata sebagai pengiring. Inilah tahap awal untuk mewujudkan mimpiku.
Dari semua perjalanan hidup yang aku
lewati selama ini, aku percaya Tuhan lebih tahu apa yang terbaik untuk
hambanya. Tuhan telah mempersiapkan berjuta rangkaian cerita indah untuk setiap
hambanya. Kehidupan itu proses perkembangan yang harus dilewati setiap manusia.
Setiap awal pasti ada akhir. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Setiap
usaha yang maksimal selalu di akhiri dengan senyum kepuasan, seperti layaknya
hukum newton III dalam fisika ∑Faksi =∑ Freaksi . Dibalik
setiap kesedihan ada rangkaian kebahagiaan. Seperti apa yang dikatakan penulis
favoritku dalam bukunya Manusia Setengah
Salmon “hidup memang penuh dengan ketidakpastian, namun perubahan merupakan
hal yang pasti”.
-SELESAI-


