Hai, perkenalkan namaku Nadia Almira, aku adalah gadis yang sangat sangat pendiam dan pemalu. Aku sendiri tidak tahu mengapa diriku menjadi seperti ini padahal dulunya aku adalah gadis yang sangat periang dan memiliki banyak teman.
Hari ini adalah hari pertamaku masuk di sekolah baruku, sebenarnya aku agak sedikit canggung dan ragu saat pertama kali menginjakan kaki di sekolah ini. Tapi semua keraguanku itu kubendung dalam hatiku, aku tak ingin membuat orang tuaku kecewa. Saat berjalan tiba-tiba ibu menghentikan langkahnya tepat di depan gerbang sekolah.
“Ibu mengantar sampai di sini saja ya nak, tidak apa-apa kan?”
“Iya bu, tidak apa-apa ko”
Rasanya tak ingin aku melepaskan genggaman tangan ibuku, aku tak sanggup jika harus berjalan sendiri di sini. Tapi aku berusaha mengubur perasaan maluku dalam-dalam dan mulai memberanikan diri berjalan di tengah kerumunan siswa siswi yang tengah menunggu bel masuk kelas.
Ketika bel berbunyi siswa siswi pun segera memasuki kelasnya masing-masing tidak terkecuali diriku. Tiba-tiba rasa tidak percaya diriku muncul ketika bu guru mempersilahkan ku untuk memperkenalkan diri di depan kelas. Dengan agak terbata-bata aku berusaha untuk memperkenalkan diri di depan kelas
“Pe.. perkenalkan nama sa.. saya Nadia Al.. almira, sa.. saya pindahan dari SMA Pertiwi Surabaya, alamat saya ja.. jalan Dipenogoro no.15, terima kasih.. “ jelasku.
Selesai perkenalan, dengan wajah menunduk aku kembali ke tempat dudukku dan bu guru pun memulai pelajarannya.
Lima jam pelajaran berlalu, bel istirahat pun berbunyi. Semua siswa langsung behamburan keluar kelas. Tetapi tidak untukku, selama istirahat aku hanya duduk di dalam kelas sembari membaca novel kesyanganku. Tiba-tiba seseorang menyapaku dari belakang sambil mengulurkan tangannya. Aku kaget dan langsung membalikkan badan.
“Hai nadia, namaku Reno!”
“Aku Nadia. . . . “ jawabku dengan pelan.
“Oh ya’ aku ketua kelas di sini jadi kalau ada perlu temui saja aku. Aku selalu ada bagi yang membutuhkan “ jelasnya.
“. . . . . . . . . . “ aku hanya membalas dengan senyuman.
“kenapa tidak ke luar kelas? Emang nggak bosen ya di kelas terus, sendirian lagi”
“tidak apa-apa, aku cuma ingin sendiri saja” jawabku singkat.
Selama jam istirahat Reno terus mengajakku mengobrol dan menceritakan seluk beluk sekolah ini, tapi sebaliknya aku hanya menjawab dengan singkat dan pelan di tambah dengan senyuman, saat bel masuk berbunyi dengan cepat Reno berlari menuju kursinya, mungkin dia takut teman-temannya tahu kalau selama istirahat ini dia bersamaku.
Saat pulang sekolah tiba-tiba Reno menepuk pundakku.
“Nad pulang bareng yu’ kita kan searah pulangnya??” tawar Reno.
“Tidak, terima kasih aku sudah di jemput, aku duluan ya ren.” tolakku.
“Ya sudah deh. . . dengan tersenyum Reno meninggalkanku.
Ketika sampai di rumah aku langsung di sambut dengan senyum manis ibuku.
“Bagaimana sekolah barunya sayang??” Tanya ibu.
“Seperti biasa bu, aku tetap saja seperti dulu tidak berubah.” jawabku.
“Sabar ya sayang, ibu ngerti apa yang kamu rasakan sekarang.”
Ibu seolah mengerti isi hatiku sebenarnya. Senangnya bisa bersandar di pelukan ibu, memang benar pelukan seorang ibu bagaikan obat penenang. Begitu damai hati ini rasanya.
Tidak terasa hari berganti hari bulan berganti bulan, aku sudah mulai bisa beradaptasi di sekolah baruku, sedikit demi sedikit rasa tidak percaya diri dan kecanggunganku hilang. Itu semua berkat Reno, dia selalu men-support aku dalam segala hal termasuk dalam mencari teman dan cara beradaptasi di sekolah ini. Aku bersyukur bisa berteman dengan Reno. Sekarang aku bisa berubah, Nadia yang sekarang bukan Nadia yang pendiam dan pemalu melainkan Nadia yang periang dan percaya diri.
Tetapi perlahan rasa sayangku sebagai teman pada Reno berubah menjadi rasa cinta yang begitu dalam. Aku sempat tidak percaya mengapa aku bisa menyukai Reno tapi itulah kenyataanya. Hatiku selalu deg-degan saat bertemu dengannya. Selama berhari hari aku menyembunyikan perasaanku. Tanpa aku sangka sebelumnya tiba-tiba Reno mengajakku ke taman sekolah dan mengatakan kalau dia sangat mencintaiku dan ingin menjalin sebuah kisah cinta denganku. Aku sebenarnya tidak ingin itu semua terjadi tetapi tanpa kusadari mulutku berkata “ ya. . aku juga mencintaimu Reno. . .”.
Tepat pada saat hari jadianku yang ke 3 bulan aku memutuskan hubungan cintaku dengan, tidak hanya hubungan cintaku tetapi pertemananku dengan Reno aku sangat kecewa pada padanya. Tanpa sengaja aku mendengar perbincangan Reno dengan teman-temannya. Jadi selama ini dia hanya mempermainkanku dia membohongiku, aku benar-benar marah dan kecewa padanya. Rasa cinta dan sayangku padanya selama ini hanya sia-sia, dia tidak benar-benar mencintaiku, dia hanya menjadikan diriku sebagai korban taruhannya.
---TAMAT---



