Kamis, 16 Mei 2013

my short story


  Cita Cinta Realita
 
Senja mulai bergulir yang seolah bersenandung mengiringi pergantian sang malam. Merpati putih berterbangan di angkasa mengitari langit jingga. Aku duduk termenung di bawah pohon mangga depan rumahku dengan ditemani lantunan musik penghangat jiwa yang kuputar di ponselku. Walau mentari semakin tenggelam tapi sekelompok anak kecil masih asik bermain bola di tengah indahnya cakrawala senja. Kupandangi satu persatu dari mereka, kuamati setiap pergerakannya sembari mengenang sosok diriku 10 tahun yang lalu. “Betapa damainya hidup mereka, seolah tanpa beban. Andaikan aku bisa memutar sang waktu untuk bisa kembali ke masa itu.” pikirku dalam hati.  Sesaat aku tersadar dari lamunanku aku sadar sangat mustahil untuk bisa kembali ke waktu lampau kecuali aku punya pintu kemana saja seperti cerita-cerita yang ada di kartun favoritku “doraemon”.
          Kulihat jam yang melingkar di lengan kiriku, ternyata sudah hampir jam 6 dan itu tandanya adzan maghrib akan segera berkumandang. Anak-anak yang sedang bermain pun satu persatu berhamburan pulang kerumah masing-masing. Akupun segera masuk ke dalam rumah.
          Beberapa menit kemudian adzan maghrib berkumandang. Segera kulangkahkan kaki untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan ibadah wajibku sebagai umat muslim. Selesai shalat aku bersimpuh di hadapan-Nya, mengucap syukur atas nikmat dan karunia-Nya serta memohon ampunan untuk segala dosa yang pernah kuperbuat selama ini. Dan tidak lupa berdoa untuk keselamatan ayah dan ibu yang sedang berjuang keras bekerja di sebrang sana. Sudah hamper 3 tahun orang tuaku tidak tinggal bersama aku dan adikku. Mereka rela pergi jauh memendam dalam-dalam kerinduannya demi bisa mencukupi kehidupan anak-anaknya. Terkadang air mata kerinduan menetes saat teringat akan perjuangan mereka. Perjuangan yang memang tanpa batas, tanpa mengenal lelah dan tanpa keluhan. Hanya senyuman dan untaian kata penuh sayang yang senantiasa mereka tunjukkan kepada anak-anaknya. Merekalah teladan dan penyempurna hidupku.
          Saat ini aku duduk di kelas XII SMA N 1 Sambit Ponorogo. Banyak tugas yang harus kuselesaikan malam ini juga. “Haruskah aku lembur lagi malam ini?” keluhku dalam hati sambil mempersiapkan buku pelajaran untuk esok hari. Entah kenapa malam ini pikiranku sedikit kacau melihat tumpukkan tusas di hadapanku. Bingung mana yang harus terlebih dahulu kuselesaikan. Tiba-tiba ponselku bergetar tanda ada pesan masuk. Kubuka pesan tersebut, isinya “semangat ya yung !! kamu pasti bisa kok, gak usah galau terus :-D”. sepotong kalimat semangat dan senyum dari sahabat cukup membangkitkan semangat yang tadi sempat pudar. “Thanks cuyung J” balasku.
          Malam semakin larut suasana semakin sunyi, suara kodok yang sedari tadi bersenandung riang di belakang rumah pun perlahan menghilang. Tugasku belum juga selesai padahal ini harus di kumpulkan besok. Kegalauan mulai meracuni pikiranku. Mataku sudah semakin lemah untuk menatap setiap tulisan yang aku tulis. Setelah berjam-jam bertempur melawan rasa kantuk akhirnya semua tugasku selesai. Semoga hasilnya bisa se maksimal usahaku. Belajar sudah, tugas-tugas beres, waktunya berkelana di dunia mimpi. Kutarik selimut dan seketika langsung terlelap.
          Silau mentari pagi berebut masuk melalui celah-celah jendela kamar. Suara kokokkan ayam membangunkan tidur lelapku. Dengan masih setengah sadar kusempatkan menatap jam yang menempel di dinding kamarku. Kuamati perputaran jarumnya secara perlahan, betapa terkejutnya  ternyata sudah pukul 6 tepat. Segera ku beranjak dari kasur, kemudian mengambil handuk dan bergegas menuju kamar mandi. “Aaawwwwww.  . .” jeritku. Karena tergesa-gesa dan tidak hati-hati aku terpeleset di pintu kamar mandi. Walau rasanya sakit sekali tapi tetap kupaksakkan untuk berdiri sambil terus mengaduh kesakitan.
          Jarum jam sudah menunjukkan pukul 06.45 WIB. Setelah berpamitan dengan kakek, aku segera berangkat ke sekolah. Kali ini langkahku lebih cepat dari biasanya, karena kelas dimulai pukul 7 tepat dan aku tidak mau terlambat untuk mengikuti KBM hari ini walaupun rintikkan hujan sedikit menghalangi langkahku. Aku tiba di gerbang sekolah tepat saat bel tanda masuk berbunyi. Aku berlari dan segera  masuk ke dalam kelas.
          Seharian bergelut dengan buku-buku dan pelajaran cukup membuat kepala terasa penat. Belum lagi siang ini harus ke warnet untuk mengerjakan tugas. “Ayo Ulfa semangat semangat!!” bisiku dalam hati. Terkadang aku berpikir ingin segera terlepas dari masa-masa yang cukup memeras otak ini, tapi apa daya tidak ada yang bisa aku lakukan selain menghadapi, menghayati dan menikmati masa perjuangan yang belum tentu semua orang bisa merasakannya. Berharap semua akan bermuara sempurna di dalam lautan kebahagiaan.
          Di malam yang gelap tanpa bintang ini tanpa sadar air mata sendu sudah membasahi pipi merahku. Entah mengapa tiba-tiba aku teringat kejadian satu bulan yang lalu. Kejadian saat sang pengelana cintaku dengan tiba-tiba mengakhiri hubungan yang belum lama kita rajut bersama. Aku tak pernah mambayangkan ini semua terjadi, meski hanya dalam mimpi buruk sekalipun. Aku tak percaya ketika mendengar kata perpisahan itu keluar dari mulut seorang yang selama ini menghuni relungku. Kala itu hatiku seakan terus menjerit, batinku tersiksa, kegalauan hati seolah meracuni jiwa. Bibirku mampu berkata namun tatapan lembut mata ini tak mampu berbohong. Aku memang sangat mencintainya, dia mampu merubah diriku menjadi lebih baik dari sebelumnya. Entah hal apa yang membuatnya tega mengakhiri semua ini. Berhari-hari aku dilanda kepedihan, aku memang belum ikhlas untuk membiarkan cinta itu terbang begitu saja.
          Sekarang air mata ini menetes tiada arti lagi. Aku sadar untuk apa aku berlarut-larut dalam ruang kesedihan. Layaknya pepatah “kumbang tidak hanya seekor, bunga tidak hanya sekuntum” masih banyak lelaki lain selain dia. Lebih baik aku bangkit dari kegalauan dan berjuang mewujudkan mimpiku untuk bisa melanjutkan sekolahku ke jenjeng yang lebih tinggi.
          Kini semua memang telah berubah tak seperti dulu. Hubungan kami memang telah berakhir, namun pertemanan kami tidak akan pernah berakhir dan tetap terjalin indah layaknya pelangi yang memberi warna saat hujan reda. Sayang. . . sadarkah kau sampai detik ini hatiku masih tetap untukmu, walau dirimu sempat menorehkan luka dalam batinku.
          Jemari lembut sahabatku mengusap air mata yang sejak tadi membasahi pipiku.
“Sudahlah masa lalu hanya perlu dikenang bukan untuk ditangisi. Kamu bisa lebih baik tanpanya. Ingat besok kita ada tes wawancara, lebih baik kamu mempersiapkan diri untuk besok. Kamu tidak mau kan impianmu gagal hanya karena air mata kenangan masa lalumu?? Ayollah semangat sayang !! J” kata Anggun dengan penuh senyum kekhawatiran akan diriku malam ini.
“Iya yung aku tahu, tapi setidaknya air mata ini bisa sedikit melepas beban kepedihan yang terpendam selama ini.” Jawabku sambil terus mencoba menahan tetesan air mataku.
“Sudah sudah sekarang senyum dan pikirkan impianmu !! Sudah malam, aku pulang dulu ya.” Kata Anggun kembali menyemangatkanku.
“Iya iya bawel, ya sudah kalau begitu hati-hati  ya !” jawabku.
          Butir keringat terus membasahi kemeja putih ini. Badan terasa kaku. Nafas naik turun seperti pompa. Degup jantung tak bisa terkontrol. Aku mondar-mandir di depan pintu wawancara untuk menunggu giliran masuk. Wawancara ini penentu masa depanku. Aku sudah berusaha semampuku agar bisa masuk di PPNS (Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya) melalui jalur bidik misi. “Aku pasti bisa” tiga kata sederhana yang menjelma menjadi semangat yang membara.
          Sekarang giliranku. Kutarik nafas panjang untuk membuat pikiranku tenang. Akupun masuk ke ruangan wawancara dan duduk di tempat yang telah di sediakan. Pertanyaan demi pertanyaan aku jawab dengan penuh keyakinan dan harapan.
“Wawancara selesai, di tunggu saja hasilnya 2 minggu lagi di website PPNS.” kata Pak Ari dengan wibawanya.
“Siap pak, apapun hasilnya akan saya terima.” jawabku sambil bersalaman dan segera melangkahkan kaki meninggalkan ruangan.
          Hari demi hari berlalu, hari ini pengumuman hasil dari beberapa proses kemarin. Degup jantung seakan beradu, air mata kebahagiaan turut menetes. Seakan tidak percaya namaku tercatat sebagai calon mahasiswa bidik misi di PPNS, ternyata usahaku membuahkan hasil. Segera ku ambil ponsel dan menelfon orang tuaku untuk memberitahu kabar gembira ini.
          Sujud syukur kepada Sang Pencipta seakan menggambarkan kontak batin ucapan terima kasih kepada-Nya. Menghadap kearah penjuru kesucian, kepala menempel di lantai dengan hati sebagai kunci dan air mata sebagai pengiring. Inilah tahap awal untuk mewujudkan mimpiku.
          Dari semua perjalanan hidup yang aku lewati selama ini, aku percaya Tuhan lebih tahu apa yang terbaik untuk hambanya. Tuhan telah mempersiapkan berjuta rangkaian cerita indah untuk setiap hambanya. Kehidupan itu proses perkembangan yang harus dilewati setiap manusia. Setiap awal pasti ada akhir. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Setiap usaha yang maksimal selalu di akhiri dengan senyum kepuasan, seperti layaknya hukum newton III dalam fisika ∑Faksi =∑ Freaksi . Dibalik setiap kesedihan ada rangkaian kebahagiaan. Seperti apa yang dikatakan penulis favoritku dalam bukunya Manusia Setengah Salmon “hidup memang penuh dengan ketidakpastian, namun perubahan merupakan hal yang pasti”.

-SELESAI-

untukmu yang pernah kusayang :')



Cintamu Palsu

                                                        
Aku disini terdiam menatapmu

Dengan sorot mata sayu

Kucoba mengikis pedih yang membatu

Menatap masa kelam nan sendu

Dirimu hanyalah noda di hidupku

Noda yang kian membekas dalam kalbu

Yang seakan menyayat  sukmaku

Kusadari kini cintamu palsu

Coretan luka merajai tubuh lemahku

Dirimu masih setia membisu

Tentang cintamu yang kini tak lagi untukku

Dengan tega kau jadikan aku pelarianmu

Pelampiasan cinta lamamu

Puaskah kau meracuniku?

Puaskah kau membodohiku?

Simpan saja semua cinta palsu itu !!

Biar kulepas rajutan pedih ini perlahan

Agar jiwaku kembali tenang

        Untukmu yang pernah mmencintaiku dengan sayangmu yang semu