Huaaazzzzz… ,cahaya sinar matahari pagi masuk melalui jendela kamarku dan sekaligus membuatku terbangun dari tidur nyenyakku. Kulihat gorden jendela kaarku terbuka lebar.
“Akh ibu ngapain sih pake di buka segala gordennya, silau kan jadinya.” gerutuku sembari melihat jam beker yang ada di samping tempat tidurku.
“’Astaga, telat deh gini ceritanya” aku kaget sekaligus bingung, segera ku turun dari tempat tidurku, mengambil handuk dan dengan cepat menuju kamar mandi yang berada di samping kamarku. Brrruukk… karena terburu-buru dan kurang hati-hati aku terpleset di kamar mandi dan dengan spontan berteriak.
“Awwww.. pagi-pagi udah kepleset, malangnya diriku” kataku
Selesai mandi aku segera bersiap siap ke sekolah, ku ambil tas kesayanganku dan segera keluar dari istanaku (uupz, maksudnya kamarku ).
“Bu aku berangkat dulu ya, Assalamu alaikum”
“Waalaikumsalam, tidak makan dulu nak??” jawab ibu.
“tidak bu, nanti saja di sekolah aku sudah terlambat”
“ya sudah, hati hati ya!!”
“ok bu.”
Dengan perasaan kesal dan muka bngung kunaiki sepeda hitam yang terparkir di depan rumah, ku taruh tasku di keranjang depan sepeda. Dengan kecepatan sangat tinggi kukayuh sepedaku sampai sekolah.
* di sekolah. . .
“Akhirnya sampai juga, tapi ko sepi ya pada kemana orang orang, atau jangan jangan. . . .” kataku dalam hati.
Hwaaa.. segera ku parkir sepedaku dan langsung lari menuju kelasku yang berada di lantai 2. Dengan nafas yang masih terengah engah ku mengetuk pintu kelasku.
(tuk tuk tuk tuk) “Assalamu alaikum” kataku.
“silahkan masuk” terdengar suara dari dalam, dengan peraaan takut ku memberanikan diri membuka pintu.
“Dari mana saja kamu Vina, terlambat sampai 15 menit” bentak pak guru
“Maaf pak, saya tadi bangun terlambat” jelasku.
“Ya sudah sebagai hukumannya kamu berdiri di depan selama pelajaran saya, jelas Vina”
“Jelas pak..” Dengan wajah memerah karena malu aku berdiri di samping papan tulis.
Oya, aku sampai lupa memperkenalkan diri, namaku Vina Ariny Darmawan aku biasa di panggil Vina. Aku siswi kelas IX SMP Kartini Jakarta. Aku adalah anak yang sangat manja, di sekolah aku terkenal paling cuek sama teman temanku. Aku juga tidak tahu kenapa banyak adik kelas yang takut padaku, padahal aku tak sekejam yang mereka pikirkan selama ini. Cukup perkenalannya hehehe .
1 jam lebih aku berdiri di depan kelas, gak enak rasanya jadi perhatian anak sekelas. (teng teng teng), bel tanda pergantian pelajaran pun berbunyi. Senang rasanya bisa terbebas dari hukuman.
“Pelajaran sampai di sini dulu dan Vina kamu boleh duduk, terima kasih. Asssalamu alaikum” kata pak guru.
“waalaikum salam” jawab anak anak serentak.
“akhirnya selesai juga deritaku” kataku.
“kamu kenapa vin, kayaknya aneh babget hari ini” kata Shinta salah seorang sahabatku.
“iya ni, udah tahu pelajaran pertama Pak Rudi pak telat segala” tambah Reva.
“dengerin ya coba kalian bayangin dari mulai bangun tidur sampai detik ini aku kena sial terus. Jengkel banget pokokknya” aku nyeritakan semuanya panjang lebar, teman temanku hanya geleng geleng kepala tanda kebingungan mendegar ceritaku karena aku bercerita tanpa jeda sedikit pun. Maklumlah orang lagi BT.
Karena guru guru hari ini akan mengadakan rapat, akhirnya siswa siswi diperbolehkan untuk pulang.
Ketika jalan pulang di jalan aku tanpa sengaja menabrak seorang penjual kue dan koran. Aku memarahinya, membentak bentak dia sampai dia nangis dan kue dagangan dia jatuh berceceran di tanah, sambil menangis dia mengambil satu persatu kuenya yang jatuh. Aku terdiam sejenak melihat dia.
“sepertinya dia seumuran denganku, kenapa nggak sekolah ya, atau dia satu sekolah denganku” batinku.
Aku tidak tega melihatnya menangis, akhirnya aku membantunya mengambil kue kue yang jatuh dan segera meminta maaf kepada gadis itu.
“Vina” kataku sembari mengulurkan tanganku.
“aku Tya” jawab gadis itu.
Sebagai gantinya aku mengambil uang seratus ribu dari sakuku dan memberikannya pada Tya. Tapi dia tidak mau menerima uang pemberian dariku, dia bilang dia yang salah jadi dia yang harus menanggung semua resikonya. Aku semakin merasa bersalah jelas jelas aku yang oleng bawa sepedanya. Aku tetap memaksa dia menerima uang ganti rugiku, tapi dia pun bersi keras menolaknya. Hhhmmmm.. setelah pikir pikir akhirnya aku memutuskan untuk membantunya menjual koran dan kue yang masih tersisa. Segera ku parkir sepedaku di pinggir trotoar jalan. Setelah itu aku mulai berkeliling menjajankan dagangan yang ku bawa. Saat lampu merah banyak pengendara motor atau pun mobil yang membeli koran dan kue yang ku bawa. Setelah lampu berubah hijau aku segera ke pinggir dan duduk di trotoar tempat ku memarkir sepeda.
“capek juga kerja kayak gini” batinku. Iseng iseng ku ambil satu kue yang tersisa, belum sempat aku memakanya tiba tiba Tya menyapaku dari belakang.
“hai Vina, gimana kue dan korannya??”
“ekh kamu, bikin kaget aja. Lumayan kuenya sisa 3 koranya sisa 1 dan tabloidnya juga sisa 1” kataku
“sudah siang, pulang yu’ nanti kamu di marahi orang tua kamu lho”
“gak papa ko’ ngomong ngomong aku boleh main ke rumah kamu nggak??”
“hhhmm. Gimana ya rumahku jelek berantakan lagi, kamu mau??”
“aku kan bukan mau menilai rumah kamu jadi boleh kan???” pintaku
“ya udah deh kalau kamu maksa”
“siph, ini uang hasil jualan tadi, ayo naik sepedaku aku bonceng”
Selama perjalanan ke rumah Tya aku ngobrol banyak dari mulai kehidupannya dan kenapa dia gak sekolah seperti yang lain.
Sampai di rumah Tya, aku langsung dipersilahkan masuk oleh Tya. Setelah dipersilahkan duduk aku terdiam. Aku kaget sekali melihat keadaan rumahnya. Rumahnya sangat sederhana sekali dindingnya hanya terbuat dari bambu yang di anyam dan atapnya di topang oleh kayu yang kelihatannya sudah lapuk, kursinya pun sudah bolong bolong dan langit langitnya banyak yang berlubang. Sekarang aku mengerti kenapa dia tidak melanjutkan sekolahnya seperti yang lain. Lagi lagi penyebabnya karena keadaan keekonomian keluarganya.
“dooorr, ngelamun saja”. Mendengar suara Tya aku tersadar dari lamunanku.
“orang rumah kemana Tya, sepi banget” tanyaku penasaran.
“ayahku sudah meninggal 2 tahun lalu, kalu ibu dan adikku lagi di pasar menjual sayuran, biasanya jam segini sudah pulang tapi nggak tau deh skr kmn.” jelasnya.
“maaf ya sudah buat kamu sedih, aku tidak tahu kalau . . . ”
“sudah sudah tidak apa apa ko, ayo diminum tehnya” Tya memotong perkataanku.
Setelah sekitar 1 jam aku di rumah Tya, aku segera berpamitan untuk pulang. Hari ini aku mendapat pelajaran banyak dari Tya tetang arti sebuah kehidupan.
Sampai di rumah aku langsung masuk dan memeluk ibuku sambil meminta maaf karena selama ini aku banyak berbuat salah. Ibu hanya bisa tersenyum melihat tingkah anehku. Ibu membalas maafku dengan senyumannnya yang manis dan memberiku nasihat yang sangat banyak.
Malam harinya setelah shalat maghrib aku berdo’a sambil menangis, aku merenungkang kejadian yang aku alami hari ini, dari mulai pagi sampai sekarang. Selama ini aku hanya bisa mengeluh dan meminta dan jika kemauanku tidak dituruti pasti aku marah dan mogok makan. Aku sadar begitu manjanya diriku, aku tidak pernah bersyukur dengan apa yang ku punya sekarang. Terima kasih ya Allah kau telah membuka mata hatiku akhirnya kini aku sadar aku harus bisa mensyukuri semua yang telah Tuhan berikan pada kita, apapun itu.
*TAMAT*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar