Hari ini seperti biasa Iqbaal berangkat sekolah dengan mengendarai motor peninggalan ayahnya. Pagi yang cerah ditemani hangatnya matahari pagi sehangat senyum dan semangat Iqbaal yang membara.Tanpa ragu dia menyusuri jalanan yang masih licin akibat hujan semalam.
Dia tiba di sekolah tepat saat bel berbunyi, tanpa banyak bicara dia memarkir motornya dan segera berlari menuju aula sekolah. Hari ini khusus kelas XII tidak diadakan KBM, mereka semua berkumpul di aula untuk menerima tips-tips serta motivasi dan panduan untuk mnghadapi UN yang sudah menanti di depan mata.
Setelah acara selesai Iqbaal bersama dua orang temannya segera menuju kantin untuk mengisi perut yang kosong sejak pagi. Setelah memesan makanan mereka duduk melingkar di satu meja sembari membahas mengenai motivasi-motivasi yang didapat saat sosialisasi tadi.
“Sudah-sudah jangan ngomongin UN terus mendingan habisin dulu deh makanannya sebelum di serbu lalat-lalat nakal.” kata Deni memotong pembicaraan.
“Selamat makan.” sambung Iqbaal.
Setelah makanan mereka semua habis. Tiba-tiba Deni kembali memulai pembicaraan.
“Hai sob, 14 Februari sebentar lagi kan?” tanya Deni santai.
“Hummpt, iya deh kayaknya.” jawab Iqbaal sembari melihat kalender yang ada di ponselnya.
“Terus apa rencana kalian untuk valentine kali ini?” tanya Deni.
“Belum ada rencana nih.” jawab Sandy.
“Hei kalian nggak inget ya, kan kita sebagai muslim tidak boleh merayakan valentine. Iya kan??” Iqbaal mencoba mengingtkan teman-temannya.
“Oh iya iya aku inget, tapi kan kita hanya memeriahkan saja.” kata Deni.
“Merayakan sama memeriahkan apa bedanya Denot?? Valentine itu kan tidak ada dalam agama kita, jadi sebaiknya kita tidak perlu merakannya.” jelas Iqbaal dengan tegas.
“Iya deh iya pak ustadz Iqbaal.” jawab Deni sambil memanyunkan bibirnya.Perbincangan mereka pun terus berlanjut tetapi tiba-tiba langit terlihat mendung dan akhirnya mereka bertiga memutuskan untuk pulang sebelum hujan menjebak mereka di sekolah.
“Guys aku balik duluan yah??” kata Iqbaal sembari berjalan menuju parkiran.
“Bal temen loe yang cakep ini nebeng sampai perempatan depan ya??” pinta Sandy.
“Siap mas bos Sandy.” jawab Iqbaal dengan tegas seperti layaknya menjawab perintah dari atasannya.
Di tengan perjalanan langkah Iqbaal dan Sandy terhenti ketika melihat selembar kertas yang menyita perhatian orang tertempel di papan mading. Di kertas tersebut tertulis “Bagi kamu-kamu yang memiliki potensi dan berminat mengikuti lomba Karya Tulis Remaja. Ayo buruan daftarkan diri kamu, datang langsung ke sanggar SASTRA CREW. Raih hadiah utama sebesar 1jt rupiah.”
“Bal kamu kan jago nulis tuh, ikutan aja. Lumayan hadiahnya bisa buat traktir temen-temen.” celetuk Sandy polos.
“Yahh itu sih maunya kamu San. Tapi kayaknya aku berminat nih, hmmmz tapi nanti deh di pikir-pikir dulu.” sahut Iqbaal.
Setelah berpikir secara matang akhirnya Iqbaal memutuskan untuk mengikuti lomba tersebut. Dengan penuh semangat Iqbaal membuat artikel mengenai kehidupan social jaman sekarang. Kata demi kata ia rangkai menjadi sebuah artikel. Keesokan harinya ia mengirimkan karyanya tersebut.
Sepuluh hari kemudian dia mendapat kabar bahwa artikel karyanya keluar menjadi pemenang dan mengalahkan ratusan peserta lainnya. Selain mendapatkan uang pembinaan dia juga mendapat piala serta piagam penghargaan. Dia sangat senang sekali tak terkecuali teman-temannya yang langsung mengantri minta di traktir.
Sesampainya di rumah dia menyampaikan kabar gembira itu kepada ibunya, dia juga bermaksud memberikan uang tersebut untuk ibunya tetapi ibunya malah menolak pemberian anaknya itu.
“Sudah kamu gunakan saja uang itu untuk keperluanmu sendiri, ibu masih punya simpanan untuk kebutuhan kita sehari-hari.” jawab ibunya dengan lembut.
“Tapi bu, Iqbaal ikhlas kok. Ini untuk ibu saja Iqbaal belum butuh uang ini.” jelas Iqbaal. “Kalau kamu belum butuh sekarang, kamu simpan saja dulu uang itu. Suatu saat kamu pasti membutuhkannya.” jawab ibunya, sambil terus berusaha untuk menolak.
“Ya sudah kalau ibu maunya begitu, Iqbaal shalat ashar dulu ya bu!!!” kata Iqbaal.
“Iya nak, jangan lupa berdoa.” jawab ibunya.
Selesai shalat Iqbaal berdoa.
“Ya Allah hamba ingin tetap bisa membuat mama slalu tersenyum agar hatinya bisa lupa akan bayang-bayang kepergian ayah 2 tahun silam. Jagalah slalu ia agar tetap bertahan di tengah kekalutan jiwanya. Berkatilah setiap langkah hamba, bimbinglah hamba agar slalu berada di jalanMu.” Ucap Iqbaal dalam hati.
Setelah selesai shalat Iqbaal segera menuju ke kamar, dalam benaknya dia berpikir akan digunakan untuk apa uang sebanyak itu. Tanpa sengaja Iqbaal melihat kalender yang ada di atas meja belajarnya.
“*Mom’s birthday*” Iqbaal membaca tulisan yang ada di kalender.
“Oh iya tanggal 13 Februari kan ultah mama, kok bisa lupa sih. Payyah.” bisik Iqbaal dalam hati sembari menepuk keningnya.
Tiba-tiba terlintas ide di pikirannya. Dia teringat perbincangan di kantin tadi mengenai hari valentine. Dia berniat memberikan kejutan kecil-kecilan untuk ibunya yang berulang tahun tepat pada saat malam valentine. Dia berharap dengan kejutan ini bisa sedikit menghapus kesedihan ibunya.
Sebelum tidur dia berpikir kejutan seperti apa yang akan dia persembahkan untuk ibunya. Keesokan harinya Iqbaal beserta adik sepupunya membeli berbagai barang yang dibutuhkan. Untungnya sore hari ini ibunya tidak ada di rumah jadi mereka memiliki waktu yang banyak untuk mempersiapkan semuanya.
Ketika malam tiba Iqbaal dan adiknya sudah siap dengan ditemani sebuah cake coklat berbentuk hati, seikat bung mawar, sayur sup kesukaan ibunya dan tak lupa kado terindah yang dia persembahkan khusus untuk ibunya tercinya.
Saat mereka sedang asik membayangkan bagaimana ekspersi ibunya saat pulang nanti. Tiba-tiba terdengar suara orang mengetuk pintu. Mereka yakin itu adalah ibunya, dengan segera mereka membuka pintu dan menyalakan lampu yang sebelumnya sengaja dimatikan, sembari berteriak, “Surprize. . . . . . ”.
Setelah pintu di buka, muka mereka seketika berubah saat menyadari bahwa yang dihadapan mereka bukanlah ibunya melainkan dua orang polisi dengan berseragam lengkap. Iqbaal terjatuh lemas tak berdaya di lantai setelah polisi memberitahu bahwa ibunya baru saja mengalami kecelakaan dan meninggal di tempat kejadian dan sekarang sedang berada di Rumah Sakit untuk diperika lebih lanjut.
“Ma, apa sebenarnya yang Allah rencanakan untuk Iqbaal, mengapa begitu cepat Allah menjemput mama. Sebelum mama pergi aku telah mempersiapkan sebuah kejutan istimewa untuk mama. Tapi sekarang semua itu sia-sia, mama telah pergi meninggalkanku untuk selamanya. Terima kasih selama ini sudah menjagaku dengan baik. Aku janji akan tetap membuat ayah dan mama bangga melihat anakmu ini dari atas sana. Tidak ada lagi yang bisa kuberikan selain do’a untukmu, Tunggu Iqbaal di surga ya!! I LOVE YOU MOM and I LOVE YOU DAD.” Itulah kata terakhir yang Iqbaal ucapkan sebelum meninggalkan gundukan tanah yang belum kering itu.
Kini tinggallah Iqbaal sendiri dalam merajut benang-benang kehidupannya. Kekuatan dan ketabahan menjadi penopang dalam hidupnya. Kesedihan yang melanda hatinya tak mampu ia singkirkan bahkan senyum pun tak nampak di raut wajahnya. Walaupun hatinya kini rapuh tetapi seggenggam semangat dia tancapkan baik-baik dalam jiwanya karena dentingan kehidupan akan terus berputar. Dia percaya ini semua sudah menjadi kehendak Tuhan. Sebaris doa selalu dia sisipkan dalam setiap hembusan nafasnya agar ayah dan ibunya selalu bahagia di rumah-Nya.
J THE END J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar