Blog ini dibuat untuk share informasi, posting tulisan, artikel, materi kuliah khusunya di bidang "kelistrikan" dan "kapal", dll Lets join with me :-)
Minggu, 07 Agustus 2011
Broken felling
Terasa perubahan yang begitu dahsyat
Saat mata ini tak dapat lagi melihat
Melihat keindahan suatu hubungan
Tak ada satupun kata yang dapat ku ucapkan
Sakit hati yang ku terima
Begitu perih rasanya
Bergetar slalu hati ketika mengingatnya
Terasa pilu menyesak di dada
CINTA oh.. CINTA . .
Tak pernah terbayang ini sebelumnya
Kata-kata yang slalu kau berikan
Tak semanis hati yang kau miliki . . .
Beribu ribu jarum menembus hatiku
Bagai luka terciprat asamnya jeruk
Mengapa semua ini harus terjadi ???
Hanya Tuhan yang mengetahui semuanya . . .
Senin, 04 April 2011
Akhirnya aku sadar
Huaaazzzzz… ,cahaya sinar matahari pagi masuk melalui jendela kamarku dan sekaligus membuatku terbangun dari tidur nyenyakku. Kulihat gorden jendela kaarku terbuka lebar.
“Akh ibu ngapain sih pake di buka segala gordennya, silau kan jadinya.” gerutuku sembari melihat jam beker yang ada di samping tempat tidurku.
“’Astaga, telat deh gini ceritanya” aku kaget sekaligus bingung, segera ku turun dari tempat tidurku, mengambil handuk dan dengan cepat menuju kamar mandi yang berada di samping kamarku. Brrruukk… karena terburu-buru dan kurang hati-hati aku terpleset di kamar mandi dan dengan spontan berteriak.
“Awwww.. pagi-pagi udah kepleset, malangnya diriku” kataku
Selesai mandi aku segera bersiap siap ke sekolah, ku ambil tas kesayanganku dan segera keluar dari istanaku (uupz, maksudnya kamarku ).
“Bu aku berangkat dulu ya, Assalamu alaikum”
“Waalaikumsalam, tidak makan dulu nak??” jawab ibu.
“tidak bu, nanti saja di sekolah aku sudah terlambat”
“ya sudah, hati hati ya!!”
“ok bu.”
Dengan perasaan kesal dan muka bngung kunaiki sepeda hitam yang terparkir di depan rumah, ku taruh tasku di keranjang depan sepeda. Dengan kecepatan sangat tinggi kukayuh sepedaku sampai sekolah.
* di sekolah. . .
“Akhirnya sampai juga, tapi ko sepi ya pada kemana orang orang, atau jangan jangan. . . .” kataku dalam hati.
Hwaaa.. segera ku parkir sepedaku dan langsung lari menuju kelasku yang berada di lantai 2. Dengan nafas yang masih terengah engah ku mengetuk pintu kelasku.
(tuk tuk tuk tuk) “Assalamu alaikum” kataku.
“silahkan masuk” terdengar suara dari dalam, dengan peraaan takut ku memberanikan diri membuka pintu.
“Dari mana saja kamu Vina, terlambat sampai 15 menit” bentak pak guru
“Maaf pak, saya tadi bangun terlambat” jelasku.
“Ya sudah sebagai hukumannya kamu berdiri di depan selama pelajaran saya, jelas Vina”
“Jelas pak..” Dengan wajah memerah karena malu aku berdiri di samping papan tulis.
Oya, aku sampai lupa memperkenalkan diri, namaku Vina Ariny Darmawan aku biasa di panggil Vina. Aku siswi kelas IX SMP Kartini Jakarta. Aku adalah anak yang sangat manja, di sekolah aku terkenal paling cuek sama teman temanku. Aku juga tidak tahu kenapa banyak adik kelas yang takut padaku, padahal aku tak sekejam yang mereka pikirkan selama ini. Cukup perkenalannya hehehe .
1 jam lebih aku berdiri di depan kelas, gak enak rasanya jadi perhatian anak sekelas. (teng teng teng), bel tanda pergantian pelajaran pun berbunyi. Senang rasanya bisa terbebas dari hukuman.
“Pelajaran sampai di sini dulu dan Vina kamu boleh duduk, terima kasih. Asssalamu alaikum” kata pak guru.
“waalaikum salam” jawab anak anak serentak.
“akhirnya selesai juga deritaku” kataku.
“kamu kenapa vin, kayaknya aneh babget hari ini” kata Shinta salah seorang sahabatku.
“iya ni, udah tahu pelajaran pertama Pak Rudi pak telat segala” tambah Reva.
“dengerin ya coba kalian bayangin dari mulai bangun tidur sampai detik ini aku kena sial terus. Jengkel banget pokokknya” aku nyeritakan semuanya panjang lebar, teman temanku hanya geleng geleng kepala tanda kebingungan mendegar ceritaku karena aku bercerita tanpa jeda sedikit pun. Maklumlah orang lagi BT.
Karena guru guru hari ini akan mengadakan rapat, akhirnya siswa siswi diperbolehkan untuk pulang.
Ketika jalan pulang di jalan aku tanpa sengaja menabrak seorang penjual kue dan koran. Aku memarahinya, membentak bentak dia sampai dia nangis dan kue dagangan dia jatuh berceceran di tanah, sambil menangis dia mengambil satu persatu kuenya yang jatuh. Aku terdiam sejenak melihat dia.
“sepertinya dia seumuran denganku, kenapa nggak sekolah ya, atau dia satu sekolah denganku” batinku.
Aku tidak tega melihatnya menangis, akhirnya aku membantunya mengambil kue kue yang jatuh dan segera meminta maaf kepada gadis itu.
“Vina” kataku sembari mengulurkan tanganku.
“aku Tya” jawab gadis itu.
Sebagai gantinya aku mengambil uang seratus ribu dari sakuku dan memberikannya pada Tya. Tapi dia tidak mau menerima uang pemberian dariku, dia bilang dia yang salah jadi dia yang harus menanggung semua resikonya. Aku semakin merasa bersalah jelas jelas aku yang oleng bawa sepedanya. Aku tetap memaksa dia menerima uang ganti rugiku, tapi dia pun bersi keras menolaknya. Hhhmmmm.. setelah pikir pikir akhirnya aku memutuskan untuk membantunya menjual koran dan kue yang masih tersisa. Segera ku parkir sepedaku di pinggir trotoar jalan. Setelah itu aku mulai berkeliling menjajankan dagangan yang ku bawa. Saat lampu merah banyak pengendara motor atau pun mobil yang membeli koran dan kue yang ku bawa. Setelah lampu berubah hijau aku segera ke pinggir dan duduk di trotoar tempat ku memarkir sepeda.
“capek juga kerja kayak gini” batinku. Iseng iseng ku ambil satu kue yang tersisa, belum sempat aku memakanya tiba tiba Tya menyapaku dari belakang.
“hai Vina, gimana kue dan korannya??”
“ekh kamu, bikin kaget aja. Lumayan kuenya sisa 3 koranya sisa 1 dan tabloidnya juga sisa 1” kataku
“sudah siang, pulang yu’ nanti kamu di marahi orang tua kamu lho”
“gak papa ko’ ngomong ngomong aku boleh main ke rumah kamu nggak??”
“hhhmm. Gimana ya rumahku jelek berantakan lagi, kamu mau??”
“aku kan bukan mau menilai rumah kamu jadi boleh kan???” pintaku
“ya udah deh kalau kamu maksa”
“siph, ini uang hasil jualan tadi, ayo naik sepedaku aku bonceng”
Selama perjalanan ke rumah Tya aku ngobrol banyak dari mulai kehidupannya dan kenapa dia gak sekolah seperti yang lain.
Sampai di rumah Tya, aku langsung dipersilahkan masuk oleh Tya. Setelah dipersilahkan duduk aku terdiam. Aku kaget sekali melihat keadaan rumahnya. Rumahnya sangat sederhana sekali dindingnya hanya terbuat dari bambu yang di anyam dan atapnya di topang oleh kayu yang kelihatannya sudah lapuk, kursinya pun sudah bolong bolong dan langit langitnya banyak yang berlubang. Sekarang aku mengerti kenapa dia tidak melanjutkan sekolahnya seperti yang lain. Lagi lagi penyebabnya karena keadaan keekonomian keluarganya.
“dooorr, ngelamun saja”. Mendengar suara Tya aku tersadar dari lamunanku.
“orang rumah kemana Tya, sepi banget” tanyaku penasaran.
“ayahku sudah meninggal 2 tahun lalu, kalu ibu dan adikku lagi di pasar menjual sayuran, biasanya jam segini sudah pulang tapi nggak tau deh skr kmn.” jelasnya.
“maaf ya sudah buat kamu sedih, aku tidak tahu kalau . . . ”
“sudah sudah tidak apa apa ko, ayo diminum tehnya” Tya memotong perkataanku.
Setelah sekitar 1 jam aku di rumah Tya, aku segera berpamitan untuk pulang. Hari ini aku mendapat pelajaran banyak dari Tya tetang arti sebuah kehidupan.
Sampai di rumah aku langsung masuk dan memeluk ibuku sambil meminta maaf karena selama ini aku banyak berbuat salah. Ibu hanya bisa tersenyum melihat tingkah anehku. Ibu membalas maafku dengan senyumannnya yang manis dan memberiku nasihat yang sangat banyak.
Malam harinya setelah shalat maghrib aku berdo’a sambil menangis, aku merenungkang kejadian yang aku alami hari ini, dari mulai pagi sampai sekarang. Selama ini aku hanya bisa mengeluh dan meminta dan jika kemauanku tidak dituruti pasti aku marah dan mogok makan. Aku sadar begitu manjanya diriku, aku tidak pernah bersyukur dengan apa yang ku punya sekarang. Terima kasih ya Allah kau telah membuka mata hatiku akhirnya kini aku sadar aku harus bisa mensyukuri semua yang telah Tuhan berikan pada kita, apapun itu.
*TAMAT*
Kamis, 17 Maret 2011
TerguLir kecewa
Hai, perkenalkan namaku Nadia Almira, aku adalah gadis yang sangat sangat pendiam dan pemalu. Aku sendiri tidak tahu mengapa diriku menjadi seperti ini padahal dulunya aku adalah gadis yang sangat periang dan memiliki banyak teman.
Hari ini adalah hari pertamaku masuk di sekolah baruku, sebenarnya aku agak sedikit canggung dan ragu saat pertama kali menginjakan kaki di sekolah ini. Tapi semua keraguanku itu kubendung dalam hatiku, aku tak ingin membuat orang tuaku kecewa. Saat berjalan tiba-tiba ibu menghentikan langkahnya tepat di depan gerbang sekolah.
“Ibu mengantar sampai di sini saja ya nak, tidak apa-apa kan?”
“Iya bu, tidak apa-apa ko”
Rasanya tak ingin aku melepaskan genggaman tangan ibuku, aku tak sanggup jika harus berjalan sendiri di sini. Tapi aku berusaha mengubur perasaan maluku dalam-dalam dan mulai memberanikan diri berjalan di tengah kerumunan siswa siswi yang tengah menunggu bel masuk kelas.
Ketika bel berbunyi siswa siswi pun segera memasuki kelasnya masing-masing tidak terkecuali diriku. Tiba-tiba rasa tidak percaya diriku muncul ketika bu guru mempersilahkan ku untuk memperkenalkan diri di depan kelas. Dengan agak terbata-bata aku berusaha untuk memperkenalkan diri di depan kelas
“Pe.. perkenalkan nama sa.. saya Nadia Al.. almira, sa.. saya pindahan dari SMA Pertiwi Surabaya, alamat saya ja.. jalan Dipenogoro no.15, terima kasih.. “ jelasku.
Selesai perkenalan, dengan wajah menunduk aku kembali ke tempat dudukku dan bu guru pun memulai pelajarannya.
Lima jam pelajaran berlalu, bel istirahat pun berbunyi. Semua siswa langsung behamburan keluar kelas. Tetapi tidak untukku, selama istirahat aku hanya duduk di dalam kelas sembari membaca novel kesyanganku. Tiba-tiba seseorang menyapaku dari belakang sambil mengulurkan tangannya. Aku kaget dan langsung membalikkan badan.
“Hai nadia, namaku Reno!”
“Aku Nadia. . . . “ jawabku dengan pelan.
“Oh ya’ aku ketua kelas di sini jadi kalau ada perlu temui saja aku. Aku selalu ada bagi yang membutuhkan “ jelasnya.
“. . . . . . . . . . “ aku hanya membalas dengan senyuman.
“kenapa tidak ke luar kelas? Emang nggak bosen ya di kelas terus, sendirian lagi”
“tidak apa-apa, aku cuma ingin sendiri saja” jawabku singkat.
Selama jam istirahat Reno terus mengajakku mengobrol dan menceritakan seluk beluk sekolah ini, tapi sebaliknya aku hanya menjawab dengan singkat dan pelan di tambah dengan senyuman, saat bel masuk berbunyi dengan cepat Reno berlari menuju kursinya, mungkin dia takut teman-temannya tahu kalau selama istirahat ini dia bersamaku.
Saat pulang sekolah tiba-tiba Reno menepuk pundakku.
“Nad pulang bareng yu’ kita kan searah pulangnya??” tawar Reno.
“Tidak, terima kasih aku sudah di jemput, aku duluan ya ren.” tolakku.
“Ya sudah deh. . . dengan tersenyum Reno meninggalkanku.
Ketika sampai di rumah aku langsung di sambut dengan senyum manis ibuku.
“Bagaimana sekolah barunya sayang??” Tanya ibu.
“Seperti biasa bu, aku tetap saja seperti dulu tidak berubah.” jawabku.
“Sabar ya sayang, ibu ngerti apa yang kamu rasakan sekarang.”
Ibu seolah mengerti isi hatiku sebenarnya. Senangnya bisa bersandar di pelukan ibu, memang benar pelukan seorang ibu bagaikan obat penenang. Begitu damai hati ini rasanya.
Tidak terasa hari berganti hari bulan berganti bulan, aku sudah mulai bisa beradaptasi di sekolah baruku, sedikit demi sedikit rasa tidak percaya diri dan kecanggunganku hilang. Itu semua berkat Reno, dia selalu men-support aku dalam segala hal termasuk dalam mencari teman dan cara beradaptasi di sekolah ini. Aku bersyukur bisa berteman dengan Reno. Sekarang aku bisa berubah, Nadia yang sekarang bukan Nadia yang pendiam dan pemalu melainkan Nadia yang periang dan percaya diri.
Tetapi perlahan rasa sayangku sebagai teman pada Reno berubah menjadi rasa cinta yang begitu dalam. Aku sempat tidak percaya mengapa aku bisa menyukai Reno tapi itulah kenyataanya. Hatiku selalu deg-degan saat bertemu dengannya. Selama berhari hari aku menyembunyikan perasaanku. Tanpa aku sangka sebelumnya tiba-tiba Reno mengajakku ke taman sekolah dan mengatakan kalau dia sangat mencintaiku dan ingin menjalin sebuah kisah cinta denganku. Aku sebenarnya tidak ingin itu semua terjadi tetapi tanpa kusadari mulutku berkata “ ya. . aku juga mencintaimu Reno. . .”.
Tepat pada saat hari jadianku yang ke 3 bulan aku memutuskan hubungan cintaku dengan, tidak hanya hubungan cintaku tetapi pertemananku dengan Reno aku sangat kecewa pada padanya. Tanpa sengaja aku mendengar perbincangan Reno dengan teman-temannya. Jadi selama ini dia hanya mempermainkanku dia membohongiku, aku benar-benar marah dan kecewa padanya. Rasa cinta dan sayangku padanya selama ini hanya sia-sia, dia tidak benar-benar mencintaiku, dia hanya menjadikan diriku sebagai korban taruhannya.
---TAMAT---
Cita Cinta Realita
|
S
|
enja
mulai bergulir yang seolah bersenandung mengiringi pergantian sang malam.
Merpati putih berterbangan di angkasa mengitari langit jingga. Aku duduk
termenung di bawah pohon mangga depan rumahku dengan ditemani lantunan musik
penghangat jiwa yang kuputar di ponselku. Walau mentari semakin tenggelam tapi
sekelompok anak kecil masih asik bermain bola di tengah indahnya cakrawala
senja. Kupandangi satu persatu dari mereka, kuamati setiap pergerakannya
sembari mengenang sosok diriku 10 tahun yang lalu. “Betapa damainya hidup
mereka, seolah tanpa beban. Andaikan aku bisa memutar sang waktu untuk bisa
kembali ke masa itu.” pikirku dalam hati.
Sesaat aku tersadar dari lamunanku aku sadar sangat mustahil untuk bisa
kembali ke waktu lampau kecuali aku punya pintu kemana saja seperti
cerita-cerita yang ada di kartun favoritku “doraemon”.
Kulihat jam yang melingkar di lengan
kiriku, ternyata sudah hampir jam 6 dan itu tandanya adzan maghrib akan segera
berkumandang. Anak-anak yang sedang bermain pun satu persatu berhamburan pulang
kerumah masing-masing. Akupun segera masuk ke dalam rumah.
Beberapa menit kemudian adzan maghrib
berkumandang. Segera kulangkahkan kaki untuk mengambil air wudhu dan
melaksanakan ibadah wajibku sebagai umat muslim. Selesai shalat aku bersimpuh
di hadapan-Nya, mengucap syukur atas nikmat dan karunia-Nya serta memohon
ampunan untuk segala dosa yang pernah kuperbuat selama ini. Dan tidak lupa
berdoa untuk keselamatan ayah dan ibu yang sedang berjuang keras bekerja di
sebrang sana. Sudah hamper 3 tahun orang tuaku tidak tinggal bersama aku dan
adikku. Mereka rela pergi jauh memendam dalam-dalam kerinduannya demi bisa
mencukupi kehidupan anak-anaknya. Terkadang air mata kerinduan menetes saat
teringat akan perjuangan mereka. Perjuangan yang memang tanpa batas, tanpa
mengenal lelah dan tanpa keluhan. Hanya senyuman dan untaian kata penuh sayang
yang senantiasa mereka tunjukkan kepada anak-anaknya. Merekalah teladan dan
penyempurna hidupku.
Saat ini aku duduk di kelas XII SMA N
1 Sambit Ponorogo. Banyak tugas yang harus kuselesaikan malam ini juga.
“Haruskah aku lembur lagi malam ini?” keluhku dalam hati sambil mempersiapkan
buku pelajaran untuk esok hari. Entah kenapa malam ini pikiranku sedikit kacau
melihat tumpukkan tusas di hadapanku. Bingung mana yang harus terlebih dahulu
kuselesaikan. Tiba-tiba ponselku bergetar tanda ada pesan masuk. Kubuka pesan
tersebut, isinya “semangat ya yung !! kamu pasti bisa kok, gak usah galau terus
:-D”. sepotong kalimat semangat dan senyum dari sahabat cukup membangkitkan
semangat yang tadi sempat pudar. “Thanks cuyung J” balasku.
Malam
semakin larut suasana semakin sunyi, suara kodok yang sedari tadi bersenandung
riang di belakang rumah pun perlahan menghilang. Tugasku belum juga selesai
padahal ini harus di kumpulkan besok. Kegalauan mulai meracuni pikiranku.
Mataku sudah semakin lemah untuk menatap setiap tulisan yang aku tulis. Setelah
berjam-jam bertempur melawan rasa kantuk akhirnya semua tugasku selesai. Semoga
hasilnya bisa se maksimal usahaku. Belajar sudah, tugas-tugas beres, waktunya
berkelana di dunia mimpi. Kutarik selimut dan seketika langsung terlelap.
Silau mentari pagi berebut masuk
melalui celah-celah jendela kamar. Suara kokokkan ayam membangunkan tidur
lelapku. Dengan masih setengah sadar kusempatkan menatap jam yang menempel di
dinding kamarku. Kuamati perputaran jarumnya secara perlahan, betapa
terkejutnya ternyata sudah pukul 6
tepat. Segera ku beranjak dari kasur, kemudian mengambil handuk dan bergegas
menuju kamar mandi. “Aaawwwwww. . .”
jeritku. Karena tergesa-gesa dan tidak hati-hati aku terpeleset di pintu kamar
mandi. Walau rasanya sakit sekali tapi tetap kupaksakkan untuk berdiri sambil
terus mengaduh kesakitan.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul
06.45 WIB. Setelah berpamitan dengan kakek, aku segera berangkat ke sekolah.
Kali ini langkahku lebih cepat dari biasanya, karena kelas dimulai pukul 7
tepat dan aku tidak mau terlambat untuk mengikuti KBM hari ini walaupun
rintikkan hujan sedikit menghalangi langkahku. Aku tiba di gerbang sekolah
tepat saat bel tanda masuk berbunyi. Aku berlari dan segera masuk ke dalam kelas.
Seharian bergelut dengan buku-buku dan
pelajaran cukup membuat kepala terasa penat. Belum lagi siang ini harus ke
warnet untuk mengerjakan tugas. “Ayo Ulfa semangat semangat!!” bisiku dalam
hati. Terkadang aku berpikir ingin segera terlepas dari masa-masa yang cukup
memeras otak ini, tapi apa daya tidak ada yang bisa aku lakukan selain
menghadapi, menghayati dan menikmati masa perjuangan yang belum tentu semua orang
bisa merasakannya. Berharap semua akan bermuara sempurna di dalam lautan
kebahagiaan.
Di malam yang gelap tanpa bintang ini
tanpa sadar air mata sendu sudah membasahi pipi merahku. Entah mengapa
tiba-tiba aku teringat kejadian satu bulan yang lalu. Kejadian saat sang
pengelana cintaku dengan tiba-tiba mengakhiri hubungan yang belum lama kita
rajut bersama. Aku tak pernah mambayangkan ini semua terjadi, meski hanya dalam
mimpi buruk sekalipun. Aku tak percaya ketika mendengar kata perpisahan itu
keluar dari mulut seorang yang selama ini menghuni relungku. Kala itu hatiku
seakan terus menjerit, batinku tersiksa, kegalauan hati seolah meracuni jiwa.
Bibirku mampu berkata namun tatapan lembut mata ini tak mampu berbohong. Aku
memang sangat mencintainya, dia mampu merubah diriku menjadi lebih baik dari
sebelumnya. Entah hal apa yang membuatnya tega mengakhiri semua ini.
Berhari-hari aku dilanda kepedihan, aku memang belum ikhlas untuk membiarkan
cinta itu terbang begitu saja.
Sekarang
air mata ini menetes tiada arti lagi. Aku sadar untuk apa aku berlarut-larut
dalam ruang kesedihan. Layaknya pepatah “kumbang tidak hanya seekor, bunga
tidak hanya sekuntum” masih banyak lelaki lain selain dia. Lebih baik aku
bangkit dari kegalauan dan berjuang mewujudkan mimpiku untuk bisa melanjutkan
sekolahku ke jenjeng yang lebih tinggi.
Kini semua memang telah berubah tak
seperti dulu. Hubungan kami
memang telah berakhir, namun pertemanan kami tidak akan pernah berakhir dan
tetap terjalin indah layaknya pelangi yang memberi warna saat hujan reda.
Sayang. . . sadarkah kau sampai detik ini hatiku masih tetap untukmu, walau
dirimu sempat menorehkan luka dalam batinku.
Jemari lembut sahabatku mengusap air
mata yang sejak tadi membasahi pipiku.
“Sudahlah
masa lalu hanya perlu dikenang bukan untuk ditangisi. Kamu bisa lebih baik
tanpanya. Ingat besok kita ada tes wawancara, lebih baik kamu mempersiapkan
diri untuk besok. Kamu tidak mau kan impianmu gagal hanya karena air mata
kenangan masa lalumu?? Ayollah semangat sayang !! J” kata Anggun dengan penuh
senyum kekhawatiran akan diriku malam ini.
“Iya
yung aku tahu, tapi setidaknya air mata ini bisa sedikit melepas beban
kepedihan yang terpendam selama ini.” Jawabku sambil terus mencoba menahan
tetesan air mataku.
“Sudah
sudah sekarang senyum dan pikirkan impianmu !! Sudah malam, aku pulang dulu
ya.” Kata Anggun kembali menyemangatkanku.
“Iya
iya bawel, ya sudah kalau begitu hati-hati
ya !” jawabku.
Butir keringat terus membasahi kemeja
putih ini. Badan terasa kaku. Nafas naik turun seperti pompa. Degup jantung tak
bisa terkontrol. Aku mondar-mandir di depan pintu wawancara untuk menunggu
giliran masuk. Wawancara ini penentu masa depanku. Aku sudah berusaha semampuku
agar bisa masuk di PPNS (Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya) melalui jalur
bidik misi. “Aku pasti bisa” tiga kata sederhana yang menjelma menjadi semangat
yang membara.
Sekarang
giliranku. Kutarik nafas panjang untuk membuat pikiranku tenang. Akupun masuk
ke ruangan wawancara dan duduk di tempat yang telah di sediakan. Pertanyaan
demi pertanyaan aku jawab dengan penuh keyakinan dan harapan.
“Wawancara
selesai, di tunggu saja hasilnya 2 minggu lagi di website PPNS.” kata Pak Ari
dengan wibawanya.
“Siap
pak, apapun hasilnya akan saya terima.” jawabku sambil bersalaman dan segera
melangkahkan kaki meninggalkan ruangan.
Hari demi hari berlalu, hari ini
pengumuman hasil dari beberapa proses kemarin. Degup jantung seakan beradu, air
mata kebahagiaan turut menetes. Seakan tidak percaya namaku tercatat sebagai
calon mahasiswa bidik misi di PPNS, ternyata usahaku membuahkan hasil. Segera
ku ambil ponsel dan menelfon orang tuaku untuk memberitahu kabar gembira ini.
Sujud syukur kepada Sang Pencipta
seakan menggambarkan kontak batin ucapan terima kasih kepada-Nya. Menghadap kearah
penjuru kesucian, kepala menempel di lantai dengan hati sebagai kunci dan air
mata sebagai pengiring. Inilah tahap awal untuk mewujudkan mimpiku.
Dari semua perjalanan hidup yang aku
lewati selama ini, aku percaya Tuhan lebih tahu apa yang terbaik untuk
hambanya. Tuhan telah mempersiapkan berjuta rangkaian cerita indah untuk setiap
hambanya. Kehidupan itu proses perkembangan yang harus dilewati setiap manusia.
Setiap awal pasti ada akhir. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Setiap
usaha yang maksimal selalu di akhiri dengan senyum kepuasan, seperti layaknya
hukum newton III dalam fisika ∑Faksi =∑ Freaksi . Dibalik
setiap kesedihan ada rangkaian kebahagiaan. Seperti apa yang dikatakan penulis
favoritku dalam bukunya Manusia Setengah
Salmon “hidup memang penuh dengan ketidakpastian, namun perubahan merupakan
hal yang pasti”.
-SELESAI-
p3rkenaLan :)
Hai semuanya, kenalin gw ulfa'ditya. Cewek penggemar Mario Stevano Aditya Haling (M.S.A.H) ini pernah ngaku ngaku mirip Aryanie Fitriana (padahal gak mirip banget :D). Jangan salah gini-gini gw lumayan terkenal lho, ya walaupun cuma di kalangan temen-temen gw. Ini awal gw ngotak ngatik yang namanya blog. Awalnya sih cuma ikut-ikutan temen ajje tapi setelah dilihat, diraba and diterawang (kok jd kayak ngecek duit yak), kayaknya seru juga sh mainin blog. Blog ini akan coba gw isi dengan karya-karya bkinan gw sndiri, ada artikel juga, dll *ya meskipun gak bagus bagus amat sh :)
Gw ngefans banget sama bang Raditya Dika, ittu lho writter terkenal yang pernah nulis buku best seller Kambing Jantan. Bagi gw bang Radith it seorang inspirator, gmna egag sejak gw baca-baca bukunya gw jadi seneng banget bikin karya apalagi nulis diary. Dan sampai detik ini gw masih berharap bisa bikin buku sendiri kayak idola gw abang kece gw Raditya Dika.
Gw ngefans banget sama bang Raditya Dika, ittu lho writter terkenal yang pernah nulis buku best seller Kambing Jantan. Bagi gw bang Radith it seorang inspirator, gmna egag sejak gw baca-baca bukunya gw jadi seneng banget bikin karya apalagi nulis diary. Dan sampai detik ini gw masih berharap bisa bikin buku sendiri kayak idola gw abang kece gw Raditya Dika.
o.k :) :P :D Let's begin. . . . . .:)
Jumat, 21 Januari 2011
my puisi...

BAYANG HARAPANUsai sudah harapan yang aku ingin
Langit mendung seakan mengerti perasaanku
Sang Fajar menyembunyikan sinarnya
Angin berhenti melihat kesedihanku
Yang aku inginkan hanyalah dirimu
Andai aku bias terbang bersamamu
Tak pernah lelah ku petik bintang untukmu
Untuk ku jadikan penerang hidupmu
Langkah langkah sepi kulewati
Hari demi hari ku hadapi
Indahnya dunia membuatku tersenyum’
Detik demi detik ku mulai lupakan sedihku
Andai kita tak dapat bertemu kembali, tapi. . .
Yakinlah kau slalu di hatiku selamanya
Aku percaya kita bias bersatu
Hanyalah kau SAHABAT TERBAIKKU….
Langganan:
Postingan (Atom)





