Jumat, 09 Desember 2011

LEGENDA SEBUAH LONCENG


A story by Dwi RaWul


*******

“Lari Dea ! Cepat lari ! Lari sejauh mungkin, jangan pedulikan aku !”
PLASSSHHH…
“Dea… Dea…” Nova menggucang tubuh Dea cemas.
“Upppsss. Dea ketiduran ya ?” Dea menutup bibirnya, malu. Tadi sepertinya dia merasa bermimpi yang aneh.

“Ini sudah hampir sampai Villa loh.” Kata Nova yang berhasil membuat Dea celangak-celongok melihat sekelilingnya melalui kaca jendela mobil. Pemandangannya sungguh asri dan hijau, khas perdesaan.

“Waktu kamu tidur aku foto loh.” Kata Gabriel yang duduk di jok bagian depan sambil mengedipkan sebelahnya ke Dea.

“Jangan berlaku bodoh deh, Yel.” Ujar Sivia yang duduk disebelah kanan Dea.

“Apa sih, Via ? Lo kan gak ada hubungannya.” Kata Gabriel sambil menatap kamera digital-nya. Melihat-lihat foto hasil jepretannya tadi. Sivia mendengus kesal melihat Gabriel yang asyik dengan foto Dea.

“Sepertinya Dea tadi mengigau. Mimpi buruk ya ?” Kata Nova lembut. Senior Dea satu ini memang orang yang penuh perhatian. Idaman para lelaki. Hehe.

Dea mengingat-ingat mimpi-nya tadi sambil memegang kepalanya. “Iya kak, mimpi yang sangat menyeramkan.” Ujar Dea. Sivia melengos disebelahnya, entah apa maksud-nya.

“Benar-benar Dea banget. lo sehat-sehat aja kan ?” Ujar Lintar tertawa dibalik kemudi setir mobil.

Dea bergaya ala binaragawan saat pamer kedua otot. “Sangat sehat kak Lintar.” Ujar Dea disambut senyum ketiga orang lainnya dimobil, hanya senyum Sivia yang absen.

“Gue berharap begitu, kan repot kalau ada anggota yang sakit. Cuma bikin susah doang.” Ujar Sivia acuh. Dea menunduk mendengar penuturan Sivia.

Ya, mereka memang sedang dalam perjalanan ke Desa Lonceng yang berada tepat dibawah gunung merapi (ngarang bebas, jangan percaya. :p). Mereka adalah anggota Perkumpulan Penelitian Misteri dari sebuah universitas swasta di Jakarta. PPM sendiri baru berdiri kurang-lebih 5 bulan yang lalu. Anggotanya kini berjumlah 7 orang. Lintar, mahasiswa semester 5 adalah ketua PPM. Nova, teman seangkatan Lintar adalah wakil ketua PPM. Gabriel dan Sivia adalah mahasiswa dan mahasiswi semester 3. Dea sendiri merupakan junior mereka, Dea mahasiswi semester 1 yang baru bergabung di PPM sebulan yang lalu. Sedangkan dua anggota PPM lainnya, Cakka dan Agni absen ikut dalam perjalanan PPM kali ini. Dua sejoli itu lebih memilih ikut naik gunung bersama PA (Pencinta Alam) di Papua. Bukannya mereka tidak setia kawan, tapi mereka merupakan pengurus dari PA yang wajib ikut serta ke Papua.

Perjalanan ke Desa lonceng ini sendiri merupakan usul dari Dea. Ada isu yang mengatakan muncul UFO di desa tersebut. Dea mengetahui hal ini dari Rio, sepupu-nya. Tentu saja berita ini disambut dengan gembira oleh PPM. Dan alhasil liburan semester kali ini mereka berpetualang ke Desa Lonceng.

*******

‘Cittttt’
Mobil Honda-Jazz itu berhenti tepat di depan sebuah rumah yang terlihat asri dan merupakan satu-satunya rumah yang berada di situ.

‘Tringgg’

Dea menoleh cepat ke kanan dan ke kiri. “Barusan bunyi lonceng darimana ?” Batin Dea dalam hati.

“Sudah sampai ?” Suara Sivia terdengar dari luar mobil.

“Hei, ayo turun.” Ujar Gabriel dari kaca jendela mobil, mengagetkan Dea.

“Iya.” Dea mengangguk lalu keluar dari mobil yang pintunya dibuka oleh Gabriel. Sivia yang melihat hal itu menatap tajam ke arah Dea. Dea yang melihat tatapan tajam Sivia hanya bisa menunduk.

“Thanks, kak.” Ujar Dea.

“Anytime.” Ujar Gabriel dengan senyum mengembang.

Mereka berlima lalu berjalan beriringan menuju rumah yang terlihat sepi tersebut. Seorang bapak berumur 40tahunan keluar dari rumah tersebut. Sepertinya mengetahui maksud kedatangan mereka. Lintar lalu terlihat berbincang-bincang dengan bapak tersebut. Empat orang lainnya duduk santai dibawah pohon sambil menunggu Lintar.

Lima belas menit kemudian Lintar dan bapak itu bersalaman lalu berjalan ke arah Dea cs.

“Ini rumah saya. Dari sini kalian harus jalan kaki menuju villa itu. Mobil tidak bisa masuk. Kalau ada apa-apa kalian bisa memanggil saya, sebentar saya ambil kuncinya dulu.” Ujar bapak itu yang diketahui bernama Duta.

“Terima kasih, Pak.” Kata Lintar sopan. Pak Duta lalu masuk kedalam rumahnya, mengambil kunci villa tempat Lintar cs menginap.

“Sekarang lo semua ambil barang-barang yang lo bawa. Kita harus jalan kira-kira tiga jam lebih untuk mencapai villa disana.” Kata Lintar disambut desah kecewa dan pasrah anggota PPM.

“Tahu begini gue gak bakal bawa barang yang banyak. Berat banget.” Sungut Sivia sebal.

“Nikmatin aja, jalan kaki kan menyehatkan.” Hibur Nova sambil menepuk punggung Sivia pelan. Sivia tersenyum, senang dengan perhatian senior-nya itu. Sedetik kemudian mukanya terlihat sebal menatap dua orang yang berada di depannya.

“Sini biar aku bantu.” Ujar Gabriel yang konsisten pakai ‘Aku-Kamu’ ke Dea.

“Thanks, kak. Tapi gak usah. Gak berat kok.” Kata Dea menolak dengan halus.

“Aduh beratttt banget sih..” Kata Sivia setengah berteriak dan akting seolah-olah berat tas-nya adalah 100 kg. Gila, berat banget yak ??

“Ya udah lo bawa aja seperlunya, yang lain ditinggal di mobil aja.” Ujar Lintar sambil berjalan meninggalkan Sivia yang terpaku. Gagal deh, rencana menarik perhatian Gabriel gara-gara Lintar. Ckckckck, kasihan.

“Ini kunci-nya.” Kata Pak Duta muncul dengan kunci di tangannya.

“Terimakasih. Tapi bapak ikut mengantar kami kan ?” Tanya Lintar sopan. Pak Duta membalas pertanyaan Lintar dengan anggukan kepala.

“Terimakasih.” Ujar Lintar lega. “Hei ayo jalan.” Perintah-nya ke anggota PPM.

Mereka ber-6 lalu berjalan menuju villa yang terletak jauh diatas rumah Pak Duta.
Perjalanan mereka lumayan jauh juga. 3 jam berjalan kaki cukup membuat kaki pegal-pegal plus kesemutan.


*******
Setelah tiga jam yang melelahkan.

“Akhirnya sampai juga.” Kata Gabriel sambil merentangkan tangannya. Mereka sekkarang berada tepat di depan Villa.

“Wah lumayan juga biarpun di pedalaman begini.” Komentar Sivia sambil memandang sekelilingnya dengan takjub. Pemandangannya benar-benar indah.

Lintar, Gabriel dan Pak Duta lalu berkeliling. Mengecek keadaan villa. Sivia terlihat sibuk mengipas-ngipas mukanya dengan tangan, kepanasan, disebelah Nova.

Dea diam membisu. Selama 3 jam perjalanan tadi, Dea hanya menatap tas Nova sambil berpikir.

“Ehh, kak Nova. Lonceng itu…” Kata Dea akhirnya. Nova menatap Dea dan tas-nya bergantian.

“Ini ? Gantungan kunci kakak kenapa ?” Tanya Nova heran.

“Maaf, Dea gak terlalu suka dengan suara lonceng.” Kata Dea akhirnya. Sebenarnya sejak awal dia ingin mengatakannya, tetapi keberaniannya tadi belum muncul.

“Suara lonceng ?” Tanya Nova.

“Iya, Dea juga gak tahu kenapa, kak.” Kata Dea takut Nova marah.

“Oo, kalau gitu dilepas aja.” Kata Nova tersenyum lalu melepas gantungan kuncinya itu dan menyimpannya di dasar tas.

“Maaf ya kak.” Kata Dea dengan raut muka bersalah.

“Gak apa-apa.” Kata Nova menepuk pundak Dea sambil tersenyum. Dea membalas senyuman Nova, tanda mengucapkan terima kasih.

“Kalau begitu saya pamit dulu.” Ujar Pak Duta setelah acara pengecek-an villa selesai.

“Eh, Pak, apa bapak pernah melihat UFO ? Sering muncul di gunung ini kan ?” Tanya Lintar cepat, mencegah Pak Duta yang siap meninggalkan mereka.

“UFO ?” Kata Pak Duta. Anggota PPM terbius dan menunggu penjelasan atas pertanyaan Lintar tadi.

“Saya tidak mempercayainya.” Ujar Pak Duta dan disambut desah kecewa anggota PPM.

“Hanya…” Suara Pak Duta kembali membius telinga anggota PPM. “Kalau persembunyian dewi sih ada.” Katanya.

Anggota PPM kompak melotot, mendengar penuturan Pak Duta. Asal jangan disertai aksi bibir kemat-kemot aja, keong racun itu namanya. Hehehe (:p)

“Persembunyian yang katanya akan ada orang yang hilang itu ?” Tanya Lintar penasaran.

“Tapi itu legenda kan ?” Kata Nova yang tidak percaya dengan cerita Pak Duta.

“Bukan legenda. Itu baru terjadi 2 tahun yang lalu. Seorang tamu yang menginap di villa ini menghilang dan sampai sekarang belum ditemukan. Kalau tidak salah masih SMA.” Ujar Pak Duta.

Tiga cewek anggota PPM kompak membekap mulutnya masing-masing dengan kedua tangannya. Antara takut dengan tidak percaya.

“Baiklah saya pulang dulu, kunci yang saya berikan ada 6, 5 untuk kamar masing-masing. Silakan dibagi sendiri.”

“Tunggu, kami berenam, Pak. Ada satu orang lagi, sepupu anggota kami yang ikut menginap.” Ujar Lintar sambil menatap Dea.

Pak Duta menatap Dea lama. Seperti merasa ada sesuatu yang aneh pada Dea.

“Baiklah, ini kunci kamar lagi. Kalian menginap selama 3 hari 2 malam kan ? Saya peringatkan jangan merusak barang, kalau itu sampai terjadi saya akan minta ganti rugi. Dan kalau ada apa-apa dan ingin menelpon silakan ke rumah saya, disini signal hp tidak ada. Permisi.” Kata Pak Duta dan pergi meninggalkan anggota PPM.

“Benar-benar gak ada signal. Sial !” Ujar Gabriel sambil menatap hp-nya.

“Tapi kecewa juga ya, bukannya UFO malah persembunyian dewi yang ada.” Kata Sivia sambil mendelik ke Dea. Dea hanya diam.

“Gak, itu belum pasti kan ? Akhir-akhir ini sering mendengar tentang UFO menculik manusia untuk meneliti tubuh kan ?” Ujar Lintar yang disambut anggukan oleh Sivia dan Gabriel. Nova dan Dea hanya diam, serius mendengarkan.

“Persembunyian dewi mungkin memang terdengar kuno, tapi siapa tahu ada kaitannya dengan berita UFO menculik manusia, toh manusia sama-sama menjadi korban dan hilang selain it…” Kata-kata Lintar dipotong oleh suara khas cowok.

“Tahu juga cerita itu. Gue salut lo bisa tahu sejauh itu.” Kata suara itu.

“Siapa lo ?” Kata Lintar menatap tajam ke arah seorang cowok yang berdiri berhadapan dengan anggota PPM.

“Ahh… Rio.” Ujar Dea pelan tapi mampu didengar oleh semua orang yang berada disana.

“Apanya yang ‘Ahhh’, aku dari tadi nungguin kamu di luar villa, lama banget sih.” Repet Rio sambil menarik tangan Dea.

“Sepertinya dia sepupunya Dea itu.” Bisik Nova ditelinga Lintar. Lintar manggut-manggut, paham.

“Lo Rio sepupunya Dea kan ? Gue Lintar katua PPM.” Kata Lintar sambil mengulurkan tangan-nya ke Rio. Rio menyambut uluran tangan Lintar dan berkata “Gue Rio.”

“Hai, gue Nova.” Kata Nova Ramah dan berjabat tangan dengan Rio.

“Gabriel.” Kata Gabriel dengan muka kurang bersahabat.

“Gue Sivia.” Ujar Sivia dengan muka jutek-nya.

“Ya udah, ceritanya kita cancel dulu. Mending masuk dan kita pembagian kamar.” Perintah Lintar dan disambut kata ‘Oke’ kompak oleh 4 orang lainnya, kecuali Dea. Dea melamun menatap Rio. Ada satu hal yang aneh dan dia pikirkan tentang Rio. Dea berusaha mati-matian dengan ingatannya. Tidak menghiraukan yang lain memanggil namanya dan menyuruh masuk ke dalam villa.

“Kamu budek ya ? Disuruh masuk malah bengong gitu, aku tahu aku cakep tapi biasa aja dong.” Ujar Rio sambil merangkul Dea. Dea menjulurkan lidah, tidak terima dengan aksi narsis Rio barusan.
Mereka berdua tidak sadar sepasang mata menatap iri ke arah mereka.

“Mereka serasi ya ? Sepupu dan teman masa kecil, benar-benar pasangan yang cocok.” Ujar Sivia.

“Cocok apaan. Mereka berdua kayak kakak-adik kok.” Ujar Gabriel lalu ngeloyor pergi meninggalkan Sivia yang masih terpaku di depan pintu. Dia menatap sebal ke Dea yang masih asyik toyor-toyoran kepala dengan Rio.


*******


“Woii, perintah ketua nih. Yang cowok kamarnya di tempat pemandangan jelek, yang cewek sebaliknya.” Teriak Lintar dari lantai dua sambil bolak-balik mengecek kamar.

“Yahhh… gak adil banget.” Protes Gabriel.

“Jangan gitu dong, sebagai gantinya kita cewek-cewek yang nyiapin makan. Impas kan ?” Ujar Nova dan disambut anggukan setuju Sivia dan Dea. Gabriel hanya bisa mendesah pasrah.

“Udah gue cek semuanya, yang paling kiri kamar gue, sebelah gue lo (nunjuk Gabriel), sebelahnya hmmm… Dea, sebelahnya Rio. Dua kamar tersisa dikanan untuk Nova sama Sivia.” Ujar Lintar.

Gabriel tersenyum senang karena kamarnya tepat disebelah Dea. Sivia sebaliknya, dia malah sebal dapat kamar paling pojok sebelah kanan. Tapi apa daya, sang ketua paling gak bisa untuk dibantah atau pun dip rotes.

“Ya udah, lo semua beresin dulu barang-barang lo, istirahat sebentar. Nanti sore kita naik ke atas. Gue masih penasaran sama cerita pak Duta tadi.” Kata Lintar yang langsung masuk ke kamarnya.

Anggota yang lain lalu terlihat sibuk mengangkat kopernya ke lantai dua.

“Sini aku bantuin.” Rio menarik tas Dea dari tangan empu-nya. Dea cuma tersenyum senang gara-gara gak perlu capek-capek bawa beban melewati tangga.

Gabriel menatap adegan didepannya dengan raut muka sebal. Dia tadi baru saja ingin membantu Dea tetapi Rio lebih cepat sedetik dari dirinya. Sivia yang juga menyaksikan adegan tersebut menatap Gabriel senang. Serasa dapat angin segar untuk meminta bantuan.

“Duh, berat nih. Yel, bantuin dongg.” Rengek Sivia.

“Gue juga keberatan tahu.” Kata Gabriel lalu berjalan dibelakang Rio dan Dea, meninggalkan Sivia yang misuh-misuh di bawah tangga. Mulutnya persis mbah dukun yang sedang baca mantra.

*******

Sore hari, jam 16.00 WIB.

“Woii lama banget, buruannn.” Teriak Lintar dari luar villa. Dia sudah keki gara-gara kelamaan nungguin anggota PPM plus Rio yang masih santai-santai di meja makan, melahap intel (indomie telor) yang dihidangkan oleh Nova.

“Lo sabar sedikit dong. Mie gue belum sepenuhnya ke lambung.” Protes Nova sambil sibuk mengikat sepatu kets-nya.

“Kelamaan. Nanti keburu Maghrib.” Kata Lintar.

4 orang lainnya lalu muncul dengan muka segar tanda habis makan.

“Sekarang mau kemana ?” Tanya Sivia.

“Ke gunung merapi. Yel, kunci villa. Yang lain yokk jalan.” Ujar Lintar sambil melempar kunci ke Gabriel. ‘Hupp’ Gabriel dengan sukses menangkap-nya. Dengan gerakan cepat dia mengunci pintu villa. Setelah pintu terkunci dengan aman dia lantas ngacir menyusul teman-temannya yang dengan tega meninggalkannya.


*******


Mereka berenam sudah berjalan kira-kira hampir 20 menit. Perjalanan menanjak tersebut benar-benar menguras energi menghasil keringat alhasil bau ketek yang tercium (hehe :p).

“Ahhh… upss.” Dea mendesah lega. Kakinya tadi hampir saja terpeleset. Untungnya Rio dengan sigap menarik tubuh mungil Dea.

“Mata kamu dimana sih ? Lihat kebawah jurang gitu. Mau mati ya ?” Rio merepet persis suara petasan. Berisik banget. Dea malah tersenyum, senang dengan repetan Rio. Gabriel yang jalan dibelakang mereka bersama Sivia lagi-lagi mukanya kusut kayak benang layangan yang putus.

“Kak, kita mau kemana sih ?” Tanya Sivia yang sudah kelelahan berjalan.

“Loh, memangnya gue belum cerita ya kalau kita lagi mencari tempat persembunyian dewi ?” Ujar Lintar balik nanya. Sontak saja pertanyaannya disambut mata melotot teman-temannya itu.

“Lo serius dengan apa yang diceritain bapak tadi ?” Tanya Nova tidak percaya.

“Ya iyalah, Nov. Apa yang diceritain pak Duta tadi bukan legenda tapi kisah nyata.” Tukas Lintar yang geregetan dengan Nova.

“Gue tetap gak percaya.” Kata Nova keukuh dengan pendiriannya.

“Terserah lo, yang jelas sebagai anggota PPM kita wajib mencari tahu.” Kata Lintar.

“Memangnya lo tahu tempatnya ?” Ujar Nova lagi.

“Enggak. Kalau gue tahu kita gak akan muter-muter kayak gini.” Kata Lintar yang mulai terlihat sebal dengan pertanyaan Nova.

“Bukannya yang merekomendasikan tempat ini lo, Yo. Lo pasti tahu kan tempat persembunyian dewi itu ?” Tanya Gabriel tapi tidak sepenuh yakin.

“Tahu.” Ujar Rio santai. Yang lain kompak menatap Rio tajam.

“Lo tahu ? Kenapa gak bilang dari tadi sih. Jadi kan gak perlu capek-capek.” Ujar Lintar sambil menoyor kepala Rio. Yang ditoyor cuma cengengesan.

“Yah, lo gak nanya, kak.” Ujar Rio.

“Lo tahu juga dong cerita dibalik kisah tempat persembunyian dewi itu ?” Tanya Gabriel lagi.

“Tahu.” Rio kembali menjawab dengan santai. Gara-gara hal itu dia kembali mendapat toyoran di kepala dari Lintar.

“Sekarang lo ceritain !” Perintah Lintar dengan tatapan tajam siap memangsa (elehhh)

“Oke.” Ujar Rio yang berhasil membuat langkah kaki kelima orang lainnya berhenti. Lalu Rio mulai bercerita.

“Pertama-tama tentang orang yang melihat UFO, dari dulu sering ada tapi sayang sampai sekarang belum ada yang bisa memotret-nya untuk dijadikan bukti. Ada juga isu tapi tidak benar alias cerita rekaan warga yang iseng aja. Tapi yang aneh, sejak ditemukannya UFO, di desa Lonceng ini sering terjadi ada orang yang tiba-tiba menghilang.”

“Apa diculik UFO ?” Tanya Dea yang terlihat takut.

“Ngaco ahh.” Komentar Gabriel.

“Kalau cerita ini ngaco gak mungkin desa ini sepi diringgal warganya. Ini berawal dari kejadian di depan mata warga, seorang nenek yang lumpuh dan sedang tidur dikamarnya tiba-tiba hilang. Dan satu hal lagi, sama dengan kejadian-kejadian sebelumnya di tempat nenek itu menghilang ditemukan sebuah benda yang bersinar merah seperti diselubungi darah. Sampai sekarang belum ada yang tahu benda apa yang dimaksud.” Ujar Rio yang membuat aura takut menyebar diantara mereka.

“Maksud lo itu masih teka-teki.” Tanya Lintar memastikan. Rio mengangguk.

“Lo yakin dengan cerita lo ?” Tanya Gabriel sangsi.

“Sembilan puluh persen gue yakin. Gue udah riset dari data di internet dan tanya sana-sini dulu sama warga tadi.” Kata Rio meyakinkan. Semua mendadak percaya.

Dea menatap Rio. Dia yakin ada satu hal yang dia lupakan dengan Rio. Dengan sebuah tempat dan kenangannya. Tapi Dea tidak dapat mengingatnya.

“Berarti lo tahu tempat persembunyian dewi itu ?” Tanya Sivia sekaligus menantang.

“Tahu. Lo mau kesana ?” Rio menantang Sivia balik.

Sivia meneguk ludahnya. Sebenarnya dia sudah sangat ketakutan saat itu.

“Kita kesana.” Perintah Lintar. Rio lalu berjalan di depan kelima teman lainnya.

“Kamu temenin aku di depan dong.” Kata Rio. Yang lain paham siapa yang diajak Rio bicara. Hanya dengan Dea, Rio menggunakan kata ‘Aku-Kamu’. Sama dengan apa yang Gabriel lakukan.

Dea menurut, dia lalu menyusul Rio kedepan. Rio lalu menggadeng tangan Dea dengan erat.

“Aku tahu sebenarnya kamu takut.” Bisik Rio ditelinga Dea. Dea menatap Rio yang sibuk berceloteh dengan Lintar yang berjalan di belakangnya.

“Rio…” Kata Dea dalam hati. Entah apa maksudnya.

*******
“Gua ?” Tanya Lintar sambil menatap gue tersegel di depannya. Ada tali yang sudah sangat tua dipasang di depan gua tersebut. Sebuah dupa dan wadah besar seperti nampan terlihat sudah usang di sebelah kanan gua tersebut.

“Lo yakin ini tempatnya ?” Tanya Nova masih konsisten dengan pendiriannya bahwa tempat persembunyian dewi itu tidak ada.

“Yakin. Gua ini persis dengan apa yang diceritakan warga disini.” Ujar Rio.

Lima belas menit lebih mereka berkeliling dan melihat-lihat gua itu. Secara tidak langsung tercipta pasangan duet. Lintar-Nova, Rio-Dea dan Gabriel-Sivia. Karena tiga cewek tersebut keberaniannya hanya mencapai 30%, sisanya adalah ketakutan.

“Kita masuk.” Perintah Lintar akhirnya. Semua meneguk ludah, tegang.

Dea yang sedari tadi berada di samping Rio, meremas-remas jari kedua tangannya. Dea sebenarnya adalah anak yang penakut. Dea ada fobia gelap. Keringatnya bercucuran. Disebelahnya, Sivia tidak kalah tegang. Hanya Nova yang masih terlihat biasa saja padahal sebenarnya dia sudah ketakutan.

“Lo yakin, kak, kita mau masuk ?” Tanya Gabriel. Dia menatap Dea yang sudah sangat pucat.

“Yakin. Kita anggota PPM kan ? Kita harus mencari tahu misteri yang sudah ada di depan mata. Malu sama lencana PPM yang kita pakai. Kita buktikan bahwa kegiatan kita ini bukan sekedar gila-gilaan seperti yang dibicarakan di kampus. Kita disini juga belajar dan memastikan kebenaran dari sebuah misteri.” Cerocos Lintar berapi-api. Dia terlihat sangat bersemangat.

“Kalau legenda itu benar, jika kita sudah masuk maka kekeramatan gua ini akan hilang.” Ujar Rio. Semua menoleh cepat ke arah dirinya.

“Maksud lo persembunyian dewi itu akan terjadi lagi ?” Ini suara Lintar.

“Maybe. Gue tadi diperingatkan warga disini agar tidak masuk gua, karena segel yang sudah dipasang oleh dukun pada waktu itu akan hilang bila manusia sudah melewati tali itu.” Rio menunjuk tali yang ada di depannya.

Lama, Lintar berpikir cukup lama. Setengah jam lebih suasana mendadak hening sebelum adu debat antara Lintar dan Nova. Dea dan Sivia sepertinya sudah tidak bernafsu lagi untuk mencari tahu tentang persembunyian dewi. Gabriel sebenarnya takut, tapi dia malu untuk mundur apalagi Rio terlihat santai dan tidak takut sama sekali. Apa kata Dea nanti kalau dia tiba-tiba mundur dan pulang ke villa.

“Kita masuk. Apa pun resikonya gue yang tanggung. Toh, kita cuma melihat-lihat sebentar. Setelah itu kita langsung keluar. Mengerti ?” Ujar Lintar setelah perdebatan yang panjang dengan Nova. Nova mendengus sebal disebelahnya. Kalah telak oleh ketua-nya. Yang lain hanya bisa mengangguk pasrah. Antara takut masuk gua dan takut dengan tatapan menguliti Lintar yang seolah-olah berkata ‘Awas lo semua kalau gak ngangguk’. Pilihan yang sulit kan ?

“Yel, lo bawa kamera kan ? Lampu-nya lo nyalain. Biar rada terang di dalam.” Perintah Lintar. Gabriel menurut, dia menghidupkan kameranya dan terlihatlah sinar dari lampu kamera tersebut.

“Kita tetap berpasang-pasangan. Jagain pasangan kita masing-masing. Kalau gue kasih aba-aba ‘lari’ lo semua wajib nurutin aba-aba gue. Lari secepat mungkin dari gua ini. Mengerti ?” Ujar Lintar. Semua mengangguk. Lintar dan Nova lalu berjalan masuk kedalam gua, memimpin rombongan kecil itu.

Dea diam terpaku. Sedang berdoa meminta perlindungan kepada Tuhan YME. Rio yang ada disebelahnya ketawa tertahan melihat raut ketakutan Dea. Dea yang menyadari bahwa dirinya ditatap dan diketawain secara bersamaan mendelik tajam ke arah Rio yang sibuk menahan tawa di mulutnya dengan tangan. Sedetik kemudian Rio berdehem, bersikap santai, takut dengan tatapan aura setan ala Dea. Rio lantas nyengir gaje merasa bersalah.

“Yuk.” Rio memberikan tangannya ke Dea agar digenganggam. Dea menatap bengong tangan Rio.

“Cihh.” Rio berdecak sebal niat baiknya dicuekin. Lalu, dia menarik tangan Dea dan digenggam-nya tangan tersebut. Setelah nyengir ke arah Dea yang masih bengong, Rio lalu berjalan setengah menyeret Dea ke dalam gua. Empat temannya yang lain sudah berada di dalam.

Dea sebenarnya senang karena bersama Rio. Tapi setengahnya lagi misuh-misuh, mengutuk dirinya dalam hati. “Kenapa sih gak daritadi aja. Kan kalau udah masuk gua gini gak bisa pipis. Bego, bego, bego.” Rutuknya dalam hati. Rio menatap bengong Dea yang menoyor-noyor kepalanya sendiri.

“Orang aneh.” Gumam Rio dan tersenyum sendiri.


*******


Mereka sudah masuk kedalam gua, bahkan sudah hampir mencapai ujung gua.

“Tidak ada apa-apa kok”
PLASSSSHHHH…

Dea kembali ingat akan sesuatu. Sosok cowok yang ada dalam mimpinya saat di mobil kembali muncul. Dea tidak dapat memastikan siapa cowok tersebut. Dia tidak ingat apa-apa.

“Perasaan ini, semakin masuk ke dalam perasaan Dea benar-benar gak enak. Kenapa ? Sosok cowok itu siapa ? Ya Tuhan Dea benar-benar takut.” Batin Dea dalam hati. Secara tidak sengaja dia malah mengeraskan genggaman tangannya. Rio menatap Dea yang terpejam. Sinar cahaya kamera Gabriel benar-benar berfungsi dengan baik di dalam gua.

“Tidak apa-apa kok.” Rio menguatkan genggamannya, berusaha menghibur Dea. Dea menatap Rio dengan tatapan aneh.

“Rio… kamu tadi bil…”

“Ada sesuatu.” Kata Lintar keras. Semua mendadak diam dan maju kedepan. Ingin melihat apa yang dilihat Lintar.

“Ini….” Ini suara Gabriel.

“Lonceng dari tanah ?” Nova menatap heran benda diatas meja usang tersebut.

“Lonceng-nya besar banget. Sapi keberatan kalau mau dipasang lonceng beginian. Hehe.” Sivia mencoba melucu. Tapi hasilnya nihil, semua orang hanya menatap iba ke arahnya yang sama sekali tidak pandai melawak. Sivia mendengus sebal, usahanya untuk menghibur teman-temannya gatot a.k.a gagal total.

“Benar-benar lelucon yang gak lucu.” Kata Gabriel setengah tertawa.

“Ini aliennya ? Ini yang disebut UFO ? Yang benar aja.” Ujar Nova merasa menang.

“Belum tentu, siapa tahu lonceng itu bisa berubah jadi sesuatu yang berbahaya.” Ujar Rio. Semua menatap Lonceng tanah dan Rio secara bergantian.

“Oke. Kalau gitu kita coba cari tahu wujud sebenarnya dari lonceng itu. Haha.” Gabriel tertawa dan berjalan kedepan, ingin melihat lebih dekat lonceng tanah tersebut.

‘Brukkkk’

“Huwaaaa gelappppp…” Jerit Sivia.



“Yel, lo cari kamera lo yang jatuh. Buruan.” Teriak Lintar mengatasi kehebohan gara-gara suasana gelap yang tercipta karena Gabriel jatuh dan sialnya kamera yang dia pegang ikut jatuh dan terbanting. Alhasil kamera itu mendadak mematikan lampu blitz-nya.

“Dapat !” Seru Gabriel setelah meraba sana-sini. Dihidupkannya lampu kamera.

‘BLASSSHHH’

Dea menatap lonceng yang baru saja terkena sinar lampu kamera Gabriel. Dea menutup mulutnya takut.

“Lonceng tanahnya….” Gumam Dea dalam hati.

“Duh silau.” Ujar Sivia. Mukanya kusut gara-gara menangis tadi.

“Lo sih ada-ada aja. Bikin heboh aja.” Rutuk Nova ke Gabriel.

“Maaf, kak, namanya juga orang jatuh gak sengaja. Hehe.” Ujar Gabriel cengengesan.

Rio membentengi matanya dengan tangan, silau. Perubahan dari gelap ke terang itu lumayan bikin mata kabur.

“Rio lihat gak barusan ?” Tanya Dea menarik-narik baju Rio.

“Lihat apaan ? Silau gini.” Sungut Rio yang masih sebal karena pandangan matanya belum normal.

“Lebih baik kita keluar dulu deh. Udah jam 6 nih.” Perintah Lintar disambut rasa syukur yang lainnya.

Mereka lalu berjalan beriringan meninggalkan lonceng tanah tersebut.

“Ayo.” Rio kembali menarik tangan Dea.

Dea menatap ke belakang taku-takut. “Ini bukan khayalan, lonceng tadi itu tadi kelihatan memerah…” Gumam Dea dalam hati, takut. Cepat-cepat dia putar kepalanya menghadap depan lalu berjalan menunduk dengan mengenggam tangan Rio kuat.

‘TRINGGG’

“Suara barusan, itu suara….” Kata Nova tercekat.

“Lo…Lonceng.” Kata Gabriel meneruskan, takut-takut.

“Huwaaaaaa…” Jerit Sivia disamping Gabriel.

“LARIIIII !” Teriak Lintar.



Semua lalu lari ngibrit keluar gua. Tidak dihiraukan keadaan gua yang gelap lantaran sinar kamera Gabriel yang digenggam ditangan itu bergerak sana-sini, tidak fokus karena si empu-nya lari.


*******

“Hosssshhh… Hossshhhh…”

Suara khas orang kecapekan gara-gara lari berlomba. Mereka berenam berhasil keluar dari gua.

“Siapa sih yang iseng megang tuh lonceng.” Rutuk Gabriel sebal.

“Jangan ngaco deh, gelap gitu siapa juga yang pegang lonceng !” Kata Nova dengan nafas tersengal-sengal.

“Benar-benar konyol deh.” Umpat Sivia.

“Benar.” Kata Gabriel setuju.

“Konyol ? Gue cukup menikmatinya kok. Seru lagi.” Ujar Lintar yang disambut tatapan tidak percaya dari lima orang lainnya.

“Lin, suara lonceng tadi gara-gara lo ya ?” Cecar Nova kesal. Lintar mengedikkan bahunya.

“Padahal kalau waktu kita keluar gua tadi orangnya berkurang pasti tambah seru. Bukannya kita udah menghapus segel dan kekeramatan gua ini.” Ujar Lintar. Semua menatap tajam ke arahnya. Seolah tidak percaya bahwa si ketua bisa berkata sadis begitu.

“Lo kalau bercanda jangan kelewatan deh.” Ujar Nova. Lintar cuma cengengesan gaje.

“Daripada lo semua bengong kayak bagong gitu, mending kita foto buat kenang-kenangan.” Kata Lintar. Semua menurut.

Mereka berpose di depan gua. Kamera diletakkan di batu besar yang ada di depan mereka agar Gabriel bisa ikut berfoto. Timer kamera dinyalakan.

Lintar dan Nova duduk dibawah mengapit Sivia. Diatasnya berdiri Rio dan Gabriel mengapit Dea.

Setelah acara foto-foto itu selesai, mereka lalu berjalan menuruni gunung untuk kembali ke villa. Selama perjalanan itu Dea hanya memikirkan kejadian lonceng tanah yang tiba-tiba memerah. Dia yakin dengan apa yang dilihatnya. Sayangnya, hanya dia yang melihat, lima temannya tidak ada yang melihat hal tersebut.

*******

Di dapur villa.

“Nanti jam 10 malam kita melihat UFO kan ? Semoga keluar disaat yang tepat.” Kata Nova sambil mengaduk-aduk nasi goreng di kuali.

“Kalau keadaannya cerah kayak gini kemungkinan-nya kecil, kak.” Kata Sivia sangsi, dia sedang mengaduk-aduk cangkir yang berisi kopi.

“…..” Dea hanya bekerja dalam diam. Tidak ikut nimbrung untuk berceloteh seperti dua orang lainnya di dapur. Dia sedang menyiapkan piring untuk mereka makan malam.

“Dea, piringnya kurang satu.” Kata Nova setelah menghitung piring yang disiapkan Dea diatas meja.

“Ehh… ohhh maaf, kak.” Ujar Dea lalu tergesa-gesa mengambil satu piring lagi yang tersimpan di lemari dapur, lantas mencucinya. “Mengapa rasanya seperti 5 orang aja ?” Batin Dea dalam hati. Dia kembali merasakan perasaan yang ganjil.

“Dea, Dea gak apa-apa kan ? Sejak kita berangkat Dea kelihatan kurang sehat ?” Tanya Nova lembut sambil terus meracik nasi gorengnya di atas kuali.

“…. Sepertinya perasaan Dea aneh, kak. Seperti ada ingatan tentang gunung merapi dan villa ini.” Kata Dea dengan mata menerawang.

“Mungkin Dea pernah kesini waktu kecil.” Kata Nova menenangkan.

“Enggak kok, kak. Ini pertama kalinya Dea kesini.” Ujar Dea lagi.

“Hei, De ! Lo gak usah bikin orang panik dong !” Hardik Sivia yang sedari tadi menahan amarah. “Lo sekongkol kan sama sepupu lo itu ? Lo menjebak PPM !” Katanya sengit.

“Sivia !” Tegur Nova keras. Sivia hanya melengos karena Nova setengah membentak, lalu dengan gerakan kasar dia membuka pintu dapur dan keluar, tidak lupa melakukan aksi banting pintu. ‘JEBLAKK’

“Telepon orang tua Dea.” Kata Nova. Dea kaget.

“Gak usah, kak.” Kata Dea setengah panik.

“Gak bisa. Kita kesini juga diluar rencana semula kan ? Niat-nya hanya ke desa lonceng kita malah menginap di villa gunung begini. Mereka pasti khawatir.” Nasihat Nova. Dea hanya diam, tidak mengangguk tidak juga menggeleng.

“Tentang Sivia, jangan terlalu dipikirin. Dia itu terlalu cemburu sama Dea.” Kata Nova menepuk pundak Dea lembut sambil tersenyum. Dea mengangguk.

“Bagus. Sekarang kakak temenin kamu untuk ke tempat pak Duta. Yukk.” Kata Nova menarik tangan Dea.

“Apa gak apa-apa kak ? Malam-malam gini kita hanya berdua. Kan lumayan jauh.” Dea sebenarnya takut. Dia lebih mengharapkan Rio yang menemaninya.

“Gak apa-apa. Terang begini. Bulan purnama. Kita juga bawa senter kok, jadi gak terlalu gelap kan ?” Ujar Nova yang bisa membaca ketakutan Dea. Dea mengangguk setuju.

Mereka berdua lalu pergi setelah menuliskan pesan di atas meja dapur yang tertulis :

-gue sama dea ke tempat pak Duta. Mau numpang telepon. Gak usah disusulin, kami berdua sekalian mau menikmati pemandangan gunung yang banyak bintang. Lagian suasananya gak serem-serem banget. terang gara-gara bulan purnama. Oke-

Nb : nasi goreng ada di kuali. Selesai makan TOLONG CUCI PIRING !


_nova_


*******

Setelah tiga jam perjalanan yang lumayan mendebarkan sekaligus menyenangkan, sampailah dua cewek tersebut di rumah pak Duta.

Pada awalnya pak Duta kaget dengan kedatangan dua orang itu. Waktu sudah menunjukkan jam 9 malam. Nova lalu mengutarakan maksud kedatangan mereka, pak Duta lalu mempersilahkan Dea untuk menggunakan telepon rumahnya. Nova sendiri duduk di ruang tamu mengobrol dengan pak Duta sambil menunggu Dea.

‘Netttttt…. Neeettttt…’
Suara khas telepon berhasil tersambung terdengar.

“Halo.” Jawab suara di seberang. Suara khas wanita.

“Halo. Mama ini Dea.” Kata Dea girang dibalik telepon.

“Dea ? Gimana kabarnya saying ?”

“Baik kok, Ma, sampai dengan selamat tadi siang. Tempatnya bagus.”

“Hati-hati ya disana.”

“Gak usah khawatir, Ma. Kan ada Rio.”

“Apa barusan ? Bilang apa barusan ? Siapa ? kreseskkk..kresekkk…”

“Yah, teleponnya aneh. Sambungan-nya jelek. Nanti Dea telepon lagi ya, dahh Mama.”

“DEA !” Pekik suara di seberang. Suara-nya terlihat panik campur kaget.

‘Klekkk’

Dea meletakkan kembali gagang telepon pada tempatnya. Dia lalu menghampiri Nova dan pak Duta yang sedang asyik mengobrol di ruang tamu.

“Selesai ?” Tanya Nova setelah melihat sosok Dea.

“Umm.” Dea mengangguk senang.

“Kalau begitu kami pamit dulu, pak.” Ujar Nova menyalami pak Duta. Dea mengekor dibelakang Nova.

“Baiklah, saya antar kalian.”

“Gak usah, pak. Kami pulang berdua aja. Nanti bapak yang repot, bisa-bisa jam 1 malam baru sampai lagi disini.” Tolak Nova halus.

“Saya lebih khawatir dengan kalian.” Kata pak Duta.

“Kami gak apa-apa kok, pak. Cuacanya cerah kok. Gak terlalu seram.” Ujar Nova terus berusaha meyakinkan pak Duta.

Pak Duta terlihat berpikir, menimbang-nimbang antara mau mengantar dua gadis di depannya atau tidak. Lalu kemudian terlihat mengangguk tanda setuju dengan permintaan Nova.

“Baiklah, kalau begitu hati-hati.” Ujar-nya.

“Terimakasih, pak. Kalau begitu kami permisi. Selamat malam.”

“Malam.” Jawab pak Duta dan mengantar dua gadis tersebut sampai di halaman.

Nova dan Dea lalu menghilang dari pandangan mata pak Duta. “Sepertinya saya kenal dengan anak itu..” Gumam pak Duta dalam hati.

Setelah berdiri sebentar memandang ke arah Nova dan Dea tadi, pak Duta lalu masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rumah. Hari sudah semakin larut. 21.30 WIB.

*******

“Kak, Dea diluar dulu ya, bintangnya bagus banget.” Kata Dea. Mereka sekarang sudah sampai di depan villa. Mungkin sekarang sudah jam 12 lewat.

“Oh, oke. Kakak masuk dulu ya.” Ujar Nova.

“Eh, kak. Bisa minta tolong panggilin Rio gak ? Suruh nyusul Dea.” Cegat Dea.

Nova tersenyum. “Oke.” Katanya mengedipkan sebelah mata, jahil. Dea cuma bisa tersipu. Nova lalu menghilang di balik pintu.

Dea berjalan naik hingga berada diatas villa. Dia bisa dengan leluasa melihat bintang. Dea bersenandung riang, menyanyikan lagu ‘Bintang Kejora’. Lagu itu punya arti khusus bagi Dea. Itu lagu kenangan-nya bersama Rio saat kecil. Rio memang jago dalam pelajaran astronomi. Rio menyukai alam dan misteri. Dea masuk dalam PPM pun karena Rio. Dea ingin menyukai apa pun yang disukai Rio.

“Lama banget sih.” Rutuk Dea. Matanya bolak-balik menghadap ke atas, menatap bintang dan melihat ke bawah, menatap villa, menanti sosok Rio.

Dea memperhatikan sesuatu di villa.

“Loh itu bukannya kamar kak Lintar ya ? Kok gorden-nya gak ditutup ? Kagetin ahh. Hihi.” Dea mengikik. Niat jahilnya mendadak timbul. Dea berjalan turun untuk mengagetkan Lintar dari luar jendela.

“ASTAGA ! KAK LINTAR !!!!!!” Pekik Dea dari luar. Dia berlari turun untuk masuk kedalam villa.

‘BLAKKKK’ Pintu terbuka dengan keras.

“Dea ???” Nova yang sedang duduk santai di ruang depan terkejut.”

“Kak gawat !!! Kak Lintar…. Tolongin kak Lintar !!!” Ujar Dea histeris.

“Kenapa kak Lintar ???” Nova ikut histeris.

“Kak Lintar terkapar di lantai, Dea lihat dari atas villa tadi. CEPAT KAK !!” Dea berlari untuk naik ke lantai dua. Tempat kamar Lintar berada, ternyata sudah ada Rio di depan kamar yang sepertinya terkunci itu.

“Ada suara menjerit dari dalam. Gue denger jelas banget. Tadi gue ingin menemui Dea.” Ujar Rio yang juga terlihat panik.

“Ribut-ribut apa sih ? Gue terganggu nih. Hoaaammm.” Gabriel muncul dari kamar sebelah. Dia menguap heboh, ngantuk berat.

“Pokoknya kita tolong dulu Lintar. Lo berdua cepat dobrak pintu !’ Perintah Nova. Gabriel cengo tidak mengerti apa-apa. Rio berusaha mendobrak-nya sendiri. Hasilnya nihil, pintu itu keras, dan sepertinya terbuat dari kayu jati.

“Gimana ini ???? Hiksss…” Dea sudah menangis. Nova terlihat pucat, dia bingung.

“Kamu tenang aja, kak Lintar pasti gak kenapa-kenapa. Yel, temenin gue ke rumah pak Duta, kita pinjam kuci duplikat.” Kata Rio mengelus kepala Dea lembut, lalu menarik tangan Gabriel.

‘Tapi kenapa ? Ceritain apa yang sedang terjadi !!” Gabriel menarik tangannya kembali dengan kasar.

“Gue ceritain sambil jalan. Buruan !!!” Rio menarik lagi tangan Gabriel dan menyeretnya.

Mereka lalu menghilang di pintu depan lantai bawah. Nova menenangkan Dea yang menangis sesegukan. Sivia yang sudah tertidur di kamarnya menjadi terganggu.

“Kenapa lagi sih ? Nangis malam-malam gini. Horor banget sih lo !” Sungutnya sebal sambil menghampiri Dea dan Nova yang terduduk di depan pintu kamar Lintar.

“Ada sesuatu yang terjadi dengan Lintar.” Ujar Nova menjawab muka sebal Sivia. Sivia mendekap mulutnya.

“Ada apa sebenarnya, kak ?” Tanya Sivia dengan muka panik.

“Kakak juga gak tahu. Dea, bisa ceritain apa yang terjadi ?” Ujar Nova sambil memeluk Dea, menenangkan Dea yang benar-benar terlihat takut.

Dea mengangguk. Lalu Dea bercerita dari awal, bagaimana dia sehabis pulang dari rumah pak Duta melihat bintang di atas villa. Lalu saat niat jahilnya timbul untuk mengagetkan Lintar dari luar jendela namun niatnya itu batal, karena Dea melihat Lintar yang bersimbah darah dan tergeletak di lantai kamar.

Sivia dan Nova menutup mulut mereka kompak. Tanda takut dan cemas.

“Lo gak bohongkan ?” Tanya Sivia memastikan. Dea menggeleng. Kepalanya sudah dibenamkannya di antara kedua kakinya.

“Kenapa kita gak masuk lewat jendela aja ?” Tanya Sivia.

“Percuma, pintu dan jendela disini terbuat dari kayu jati yang kuat. Dan jendela kamar dipasang teralis yang kokoh. Satu-satunya jalan hanya menunggu Gabriel dan Rio yang mengambil kunci di rumah pak Duta.

Mereka bertiga lalu duduk di lantai itu dalam diam. Suasana hening. Gabriel dan Rio mungkin baru datang subuh nanti. Nova lalu mengajak kedua junior-nya itu untuk tidur sambil menunggu dua orang lainnya yang sedang mengambil kunci. Sivia menolak untuk tidur sendiri-sendiri di kamar. Dia takut. Sedangkan Dea tidak mau meninggalkan kamar Lintar. Dea ingin memastikan Lintar selamat dan tidak terjadi apa-apa.

Nova menyerah, dia lalu mengambil tiga bantal dan tiga selimut dari kamar. Lalu diberikannya kepada Dea dan Sivia. Sivia dan Nova sudah tertidur di depan pintu kamar Lintar yang terkunci. Tapi, Dea tidak bisa tidur. Pikirannya benar-benar kalut. Dia takut terjadi apa-apa sama Lintar. Tetapi dia lebih takut lagi dengan keadaan Rio. Dea mencemaskan Rio yang turun gunung bersama Gabriel. Dan satu lagi, Dea merasa tidak asing dengan villa ini. Ini aneh, karena Dea baru pertama kali menginap di villa ini. Dengan pikiran-nya yang kacau, Dea lalu tertidur. Menyusul dua orang disebelahnya yang sudah tertidur dengan pulas.

*******

Pukul 06.15 WIB.
‘Grabak… Grubuk.. tap.. tap…’
Suara khas orang berlari tergesa-gesa terdengar di tangga villa. Nova bangkit. Dilihatnya kedua junior ceweknya tertidur pulas mengapitnya.

“Hosh… Hosshh.. Kak, kenapa Dea ?” Nafas Rio tersengal-sengal karena berlari.

“Dea tidur, tenang aja. Mana kuncinya ?” Ujar Nova disambut desah lega Rio.

“Kuncinya ada di…”

“Kalian tidak sedang berkelahi kan ? Saya tidak ingin dibuat repot oleh perkelahian.” Cecar pak Duta dengan muka lelah. Gabriel mengekor dibelakangnya dengan raut muka yang sama. Ketiga laki-laki itu terlihat kelelahan.

“Gak, pak. Tolong segera dibuka pintunya.” Pinta Nova.

“De, De… Dea… Bangun.” Rio menepuk-nepuk pipi Dea pelan. Dea menggeliat, matanya merem-melek.

“RIO !” Dea sadar, dipeluknya erat Rio. Sampai-sampai Rio terbatuk-batuk gara-gara pelukan keras Dea. Gila ! Kuat amat yak ?

“Uhukk.. uhukk.. aku tahu aku cakep, tapi biasa aja meluknya. Susah nafas nih.” Protes Rio. Dea melepas pelukannya. Mukanya asli merah kayak kepiting rebus.

“Sorry, Yo.” Kata Dea sambil menunduk.

“Ehemm… bisa tolong minggir sebentar.” Hardik pak Duta yang kelihatan masam dengan adegan di depannya tadi, sepertinya dia iri. Ckckck… kasihan sekali.

Dea sadar, dibantu Rio dia berdiri. Muka mereka berdua sama-sama malu. Gabriel melengos untuk kesekian kalinya. Mukanya campuran antara lelah plus sebal ditambah kesal, asli kusut kayak benang layangan. Nova membangunkan Sivia, tidak butuh waktu yang lama seperti membangunkan Dea, Sivia sudah sadar sepenuhnya. Begitu dia melihat Gabriel langsung aja nyosor kepingin meluk, upsss tapi gagal. Gabriel menahan kedua tangannya dan berkata, “Gue lagi capek banget. Lo meluk gue kapan-kapan aja.” Sadis bukan ? Via mukanya langsung memerah, diujung mata ada campuran belek plus air mata yang siap meluncur. (hehehe, jorok yee. Maafkan :p).

“Selesai ? Atau kalian mau melanjutkan drama-nya ?” Cela pak Duta. Semua kontan terdiam.

“Maaf, pak. Bisa bapak buka pintunya sekarang ?” Nova meminta maaf. Dia merasa tidak enak dengan pak Duta yang duda tapi mesti sakit mata melihat aksi anak muda.

‘CEKLEKK’

Pintu terbuka. Semua jantung berdegup seirama. ‘DEG… DEG… DEG…’

“TIDAK ADA ?????” Pekik Nova tidak percaya.

Sosok Lintar yang terkapar dilantai dan berlumuran darah seperti kata Dea tidak ada sama sekali.

“APA-APAAN INI ??? KALIAN MAU MEMPERMAINKAN SAYA YA ???” Hardik pak Duta marah. Aura neraka terasa di sana. Pak Duta benar-benar tidak habis pikir dia akan dikerjai seperti ini.

“Ma… maaf… tapi kami juga tidak tahu.” Bela Gabriel.

“SAYA TIDAK MAU TAHU. TERIMAKASIH ATAS PERMAINAN DRAMA KALIAN. PERMISI !!” Kata pak Duta ketus lalu keluar kamar dengan gerakan cepat dan kasar, khas orang marah.

‘JEBLAKKK’
Suara pintu tertutup dengan kasar a.k.a dibanting terdengar di lantai bawah. Semua orang yang ada di kamar Lintar saling berpandangan. Lalu menghembuskan nafas secara bersamaan.

“Jadi, lo mau ngarang cerita apa lagi ?” Cecar Sivia ke Dea.

“Sumpah ! Dea gak ngarang. Dea lihat sendiri, kak.” Kata Dea sambil menahan air mata. Rio melotot ke arah Sivia sambil merangkul Dea. Rio paling tidak suka ada orang yang menyakiti Dea.

“Sudah. Sudah. Kalian jangan ribut dulu. Ini semua ulah ketua kita yang maniak misteri. Dia pasti sembunyi disekitar sini. Kita cari sama-sama !” Kata Nova, semua mengangguk setuju lalu mulai melakukan pencarian.

‘KRAKKK’

Gabriel menginjak benda di lantai kamar Lintar, sepertinya patah.

“Kacamata ?” Gabriel menatap benda yang tadi terinjak secara tidak sengaja olehnya. Semua mengerubungi Gabriel untuk melihat kacamata tersebut.

“Ini…..” Suara Sivia tercekat.

“Punya kak Lintar.” Kata Dea yang dengan sukses membantu Sivia. Semua saling tatap bergantian. Lima belas menit lebih suasana di kamar itu hening. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Lintar adalah cowok dengan kacamata minus 7. Sangat tebal dan rabun yang parah. Dan tidak mungkin Lintar berjalan-jalan tanpa kacamata-nya. Dia akan kesulitan tanpa benda itu.

“Lelucon apalagi yang dibuat maniak misteri itu ? Kekanakan banget sih jadi orang !” Umpat Nova sebal. Mulutnya misuh-misuh menyebut nama Lintar. 4 orang lainnya hanya diam membisu. Pikiran mereka sepertinya mencapai titik persamaan. LINTAR BENAR-BENAR HILANG.

“Gue yakin dia lagi sembunyi.” Nova tetap tidak percaya.

“Kak, tapi lo lihat sendiri keadaan kamar ini. Semua terkunci dari dalam. Dan lo lihat ini. Ini kunci kamar kak Lintar yang tergeletak di meja itu (menunjuk meja yang ada disamping kasur). Dan satu lagi, jendela ini tertutup rapat dari dalam, teralisnya tidak ada yang rusak. Apa lagi yang mesti kakak pungkiri. Kak lintar benar-benar hilang dan dia tidak mungkin jalan-jalan dengan kacamata-nya. Dia rabun akut kak !” Tukas Gabriel kesal. Mukanya sebenarnya panik dan ingin menangis. Tetapi ditahannya. Ada Dea, malu.

“Gak. Gue gak percaya yang kayak beginian. Paling-paling sekarang dia lagi ketawa ngakak melihat kepanikan kita dari tempat persembunyiannya. Cari lagi.” Kata Nova keras kepala. Semua menatap dengan tatapan tidak percaya ke arah Nova. Keras kepala sekali waka PPM ini.

“Lemari ?” Gumam Sivia sambil menunjuk lemari yang ada disudut kamar. Semua menoleh ke arah yang ditunjuk Sivia, lantas tersenyum sumringah dan begerak mendekati lemari tersebut.

“Lo punya waktu buat keluar dari tempat sembunyi lo selama lima detik. Lin. Kata Nova dengan suara keras. Semua tersenyum melihat raut muka kemenangan di wajah Nova.

“Satu… dua… tiga… empat…. Lima….” Hening. Tidak ada gerakan dari dalam lemari besar itu.

“Oke. Lo benar-benar kekanak-kanakan. Siap-siap aja malam ini lo cuci piring.” Ujar Nova bersedekap tangan dan muka-nya kali ini bertampang sebal.

Tetap tidak ada yang terjadi. Tidak ada sosok Lintar yang keluar dari dalam lemari dengan muka cengengesan karena permainannya telah berakhir. Semua diam dan saling lihat. Sepertinya kembali terjadi kontak batin yang sama di antara mereka berlima. BUKA LEMARINYA.

Gabriel membuka lemari itu perlahan. Tidak ada sosok Lintar yang bersembunyi tapi…

“LONCENG !!!”

Teriak mereka bersamaan. mereka menatap lonceng tanah besar itu bersamaan.

“Ini lonceng yang kemarin kan ?” Tanya Sivia ragu. Semua melihat ke arahnya dengan tatapan mengiyakan.

‘TRINGGGGG’

“CEPAT KELUAR !!!” Teriak Rio yang sedari tadi hanya diam membisu. Semua lari pontang-panting keluar kamar lalu Gabriel membanting pintu kamar Lintar dengan kekuatan ekstra. ‘JEBLAKK’.. ‘CEKLEKK’ Gabriel lalu mengunci rapat kamar tersebut. Dia lalu berlari menuruni tangga, menyusul keempat temannya yang sudah duduk dengan nafas tersengal di ruang depan villa.

*******
“Kak, mungkin legenda yang diceritain pak Duta kemarin benar. Kita udah menghilangkan kekeramatan dan mengahapus segel gua itu. Itu berarti kak Lintar disembunyikan de…de..”

Sivia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Dia menangis. Gabriel menenangkannya, hal yang baru pertama kali Gabriel lakukan kepada Sivia. Tangis Sivia semakin parah karena hal itu. Antara sedih bercampur senang. Ditambah lagi, ada tangisan sesegukan di sofa seberangnya. Dea menangis dalam diam. Dia mati-matian menahan tangisnya, tetapi gagal. Rio dengan sukarela membiarkan bahunya basah oleh air mata Dea. Malah ditambah aksi mengelap ingus segala. Rio hanya bisa pasrah dan menatap bajunya dengan tatapan najis tralala.

“Gue tetap gak percaya.” Kata Nova. Dia sama sekali tidak menangis tapi muka-nya sangat terlihat sedih.

“Kak, jangan keras kepala.” Kata Gabriel.

“Gue baru akan percaya kalau ada bukti nyata. Mungkin aja kan Lintar sekarang sedang ke gua sialan itu lagi. Dan memakai kacamata simpanannya.” Tambah Nova cepat-cepat. Dia tidak ingin mendengar suara protes lagi.

“Gue udah bilang, persembunyian dewi itu ada. Gue percaya dengan warga.” Ujar Rio dengan tatapan mata menerawang. Seperti ada yang dipikirkannya.

“Gue tetap gak percaya. Udah. Gue mau tidur dulu, gue capek semalaman cuma tidur 4 jam gara-gara lelucon gila ini. Bangunin gue jam 2 siang nanti.” Kata Nova lalu meninggalkan mereka, dia menuju kamarnya di lantai dua.

Semua diam. Hening. Rio dan Gabriel sama-sama sibuk menenangkan cewek yang sedang menangis di samping mereka.

“Ini semua gara-gara lo berdua !” Kata Sivia setelah bisa mengatasi air matanya.

“Apa maksud lo ?” Ujar Rio tidak terima.

“Benar kan, ini rencana lo berdua. Lo berdua yang menjebak kami ke sini dan lo kan yang merekomendasikan tempat ini ! Apa tujuan lo ? Lo mau membunuh kami satu-persatu kan ? Lo berdua sembunyiin dimana mayat kak Lintar ???” Kata Sivia dengan nada ketus dan keras. Rio menahan diri untuk tidak menampar Sivia.

Dea merasakan aura kemarahan dalam diri Rio. Dea menyingkirkan kepalanya yang bersandar di bahu Rio. Takut. Dea belum pernah melihat kemarahan yang begitu besar dalam diri Rio.

“Lo boleh bentak-bentak gue. Lo boleh maki-maki gue. Dan lo boleh nuduh gue. Tapi gak untuk Dea !! Minta maaf lo sama Dea !!” Bentak Rio tidak kalah ketus dan keras. Sivia mendengus.

“Minta maaf ? Sama dia ?? Yang bener aja. Gue gak mau minta maaf sama pembunuh !” Kata Sivia. Rio dan Gabriel sama-sama melotot. Dea menangis. Dia tidak tahan diperlakukan seperti ini oleh Sivia.
“Apa kata lo tadi ?” Tanya Rio sambil bangkit dari sofa.

“PEM-BU-NUH !!” Kata Sivia dengan suara keras dan tatapan mata menantang.

Rio mengangkat tangannya, bersiap untuk menampar.

‘PLAKKK’

“Gabriel….” Sivia memegang pipi-nya yang merah karena ditampar. Rio bengong, bukan tangan-nya yang mendarat di pipi Sivia, tetapi itu tangan Gabriel.

“Jangan pernah lo nuduh Dea dengan kata-kata kejam lo itu.” Kata Gabriel menunjuk muka Sivia yang menahan air mata.

“Lo…. Lo…. GUE BENCI SAMA LO !!!” Sivia berlari dengan uraian air mata menuju lantai dua, kamarnya. Gabriel menatap Sivia yang menangis. Setengah menyesali perbuatannya. Rio dan Dea sama-sama terdiam.

“Aku ngelakuin ini cuma buat kamu, De. Aku percaya sama kamu tapi enggak untuk lo !!! (nunjuk Rio).” Dea menatap mata Gabriel, Dea merasakan aura kebencian dalam mata itu. Tapi, aura benci itu bukan untuk dirinya, tetapi untuk orang yang berdiri dengan sorot mata tajam disebelahnya, Rio.

“Kak Gabriel…” Gumam Dea pelan tapi mampu didengar oleh dua cowok yang ada di ruangan itu. Gabriel menatap Dea dan tersenyum.

“Aku keatas dulu ya, capek. Aku belum tidur dari semalam. Bangunin aku jam 2 siang nanti ya, De.” Katanya lagi. Gabriel lalu berjalan meninggalkan Dea dan Rio untuk tidur di kamarnya. Tidak lupa dia meninggalkan jejak menubruk Rio setengah badan. Dea menatap ngeri dua orang yang saling adu mata di dekatnya itu. Rio tidak bereaksi, dia hanya diam. Gabriel lalu berjalan dan menghilang di balik pintu kamar yang bersebelahan dengan kamar Lintar tersebut.

*******

“Cengeng kamu belum sembuh-sembuh ya ? Hehehe.” Kata Rio cengengesan. Dea melotot marah dengan mata masih sembab.

Hening. Cukup lama suasana diam terjadi di ruang depan itu. Dua orang yang berada disana sama-sama bingung ingin bicara apa. Ini untuk pertama kalinya sejak kemarin mereka bertemu hanya mengobrol berdua. Biasanya ada empat orang lainnya yang menemani.

“Rio apa kabar ?” Ujar Dea akhirnya.

Rio tersenyum senang. “Baik banget.” Katanya. Dea balas tersenyum.

“Dea juga baik.” Kata Dea lagi.

“Emang aku nanya ??” Ujar Rio nyebelin. Untuk hal ini, dia harus menerima serangan bantal sofa dari Dea. Rio mengaduh, minta ampun. Dan serangan itu pun berakhir.

Lama, suasana kembali hening. Dea kembali menutup matanya dengan dua tangannya. Dia kembali teringat dengan Lintar dan lonceng tanah.

“Dea…” Rio memanggil Dea lembut. Dia tahu Dea sekarang sedang ketakutan. Lintar tahu betul kalau Dea itu masuk dalam kategori ‘cewek penakut abad ini’

“Kak Lintar… Dia gak apa-apa kan ??” Tanya Dea. Menatap mata Rio mencari sebuah kebenaran dari mata itu. Hal yang sering Dea lakukan saat mereka kecil. Rio paling tidak bisa berbohong, semua akan ketahuan dari matanya bila dia berbohong. Dea punya teori sendiri untuk hal ini. Sayang, kali ini hasil tatapan mata-nya berbeda dengan kata hati-nya. Dea menginginkan jawaban ‘Tidak akan terjadi apa-apa’ dari mata Rio, tetapi mata Rio mengatakan ‘Lintar sudah tidak bisa diselamatkan’ Dea lalu menangis.

Rio mengutuk dirinya. Mengutuk mata-nya yang selalu lemah bila ditatap oleh orang, terutama Dea. Dia tidak akan bisa berbohong dengan Dea. Rio mengusap-usap kepala Dea dengan lembut. Hanya ini satu-satunya cara agar Dea tenang.

“Ini tanggung jawab aku, aku yang mengajak Dea kesini. Aku…” Rio memeluk Dea (elehhh sorry ye rada romantis. Abisnya saya kehabisan ide untuk mengutarakan maksud Rio ini -.-!).
Dea bengong. Cengo. Terdiam. Air matanya berhenti.

‘DEG… DEG… SERRRRR’

Begitulah kira-kira bunyi jantung dua orang tersebut diatas. (Rise… jangan iri ! Cuma cerita doang ! Hehehehe :p)

“Aku… Walau beberapa orang mengalami persembunyian dewi, terserah. Biarin aja, asal kamu selamat. Hanya kamu yang akan kulindungi.” Ujar Rio.

“Rio….” Gumam Dea pelan.

“Eh, maaf. Jadi aneh ya ? Hehehe.” Rio sadar apa yang baru saja terjadi. Lantas nyengir malu.

“Rio apa yang…” Kata-kata Dea terpotong.

“Maaf, bagiku hanya Dea yang berharga. Ehh, cuma mau bilang itu aja.” Rio garuk-garuk kepala. Mukanya merah kayak ikan bakar dicampur saos merah plus cabai yang banyak. Pokoknya merah meriah (slurrrppp… jadi laperrr ! hayo demo si penulis. Hehe)

“Ehhh…” Dea mau ngomong tapi bingung. Salah tingkah.

“Mending kamu tidur, aku yang jagain deh. Yuk aku anterin ke kamar.” Rio akhirnya bisa bersikap biasa walaupun jantungnya belum bergerak secara normal. Dia lalu menarik tangan Dea pelan menuju kamar Dea dilantai dua.

*******

“Nah, tidurlah. Jangan khawatir, gak akan terjadi apa-apa.” Kata Rio menghibur. Mereka sekarang berada tepat di depan pintu kamar Dea.

“Ehh, cek dulu deh kamarnya. Takut.” Rengek Dea manja. Rio menuruti mau-nya Dea. Dia masuk, membuka pintu dan mengecek kamar Dea. Dia lalu mengacungkan jempol-nya pertanda aman. Dea lalu masuk, ketakutannya sedikit berkurang.

“Ya udah kamu tidur gih. Kalau ada apa-apa aku ada di kamar sebelah, sebut aja nama aku tiga kali. Rio, Rio, Rio… Asikkk !” Ujar Rio menyanyikan bait lagu ‘Bento’-nya Iwan Fals. Mencoba melucu. Berhasil, Dea tertawa melihatnya. Rio merasa puas dan senang karena hal itu. Rio lalu berjalan ke luar kamar, dia hendak menutup pintu kamar Dea tersebut.

“Rio…” Panggil Dea. Rio menoleh dan menatapnya. Dea mengumpulkan keberaniannya.

“Bagi Dea juga hanya Rio sejak kecil yang berhar…” Kalimat Dea terputus, Rio menunjukkan aksi jari telunjuk dibibir. Tanda menyuruh Dea diam.

“Thanks, cukup kata-kata itu aja.” Ujar Rio lalu menutup pintu kamar. Dea terdiam di sudut kasur-nya. “Rio ???” Batinya dalam hati.

*******

Ke-esokan hari-nya.

“Lintar keterlaluan banget. Dia belum mau menyerah juga. Oke kita lihat siapa yang bakal nyerah duluan.” Kata Nova mengunyah dan mengomel secara bersamaan.

Semua orang yang ada di dapur hanya diam. Mereka berusaha menikmati nasi goreng tanpa mendengarkan ocehan Nova. Namun gagal. Pikiran tentang hilang-nya Lintar tanpa jejak tetap menghantui mereka. Dan satu-satunya orang yang belum mau percaya bahwa Lintar hilang, padahal bukti-bukti sudah ada dan cukup kuat adalah Nova. Dia tetap konsisten dengan kepala batu-nya.

“Gue gak akan percaya dengan mitos-mitos apa pun kecuali ada bukti nyata dan benar-benar kuat yang bisa dipertanggung jawabkan.” Ujarnya ngotot. Semua menyerah. Membiarkan Nova yang tetap dengan pikirannya, bahwa Lintar sedang menjalankan sebuah rencana untuk mengagetkan mereka.

“Terserah kakak deh. Tapi, kalau kak Lintar gak muncul juga sampai besok, kita tinggalin villa ini dan lapor polisi.” Putus Gabriel lalu pergi.

“Mau kemana lo ?” Tanya Nova.

“Mau ke kamar, mau nyetak foto-foto kita. Jangan ganggu gue dulu ya. Banyak nih yang mesti di edit-edit.” Jawab Gabriel.

“Oke. Selamat bekerja.” Ujar Nova lagi. Sivia terlihat acuh sedari tadi. Dia seolah-olah menganggap hanya dia dan Nova saja yang ada di meja dapur tersebut.

“Gue ke kamar dulu ya kak, titip piring.” Ujar Sivia lalu bangkit, keluar dari dapur.

“Kalian ada acara apa hari ini ?” Tanya Nova kepada dua orang yang sedang menikmati sarapannya. Keduanya menggeleng.

“Bagus. Kalian gak usah kemana-mana. Bantuin kakak cuci piring.” Kata Nova dengan senyum senang-nya.

“Loh kok kita ?” Protes Rio.

“Kakak mau bersih-bersih di bawah dulu. Debunya udah numpuk tuh. Bisa-bisa di omelin pak Duta nanti.” Kata Nova disambut gerakan bibir membentuk huruf ‘O’ oleh Dead an Rio.

“Ya udah, kakak kebawah dulu ya. Selamat mencuci piring dengan mesra.” Nova mengedipkan sebelah mata-nya jahil.

Dua orang didepannya sama-sama bermuka kepiting rebus, bahkan Rio keselek nasi goreng. Dea menepuk-nepuk leher Rio dengan raut muka prihatin. Nova ngakak melihat adegan di depan-nya, lantas pergi meninggalkan Rio dan Dea yang sama-sama terdiam. Garing banget (-.-!)

*******

“Gue akan cari bukti agar Gabriel percaya kalau gue gak bohong. Mereka berdua benar-benar pembunuh.” Kata Sivia di kamarnya. Dia misuh-misuh sendiri diatas kasur. Tangannya mengepal tanda bersemangat bercampur dendam.

“Akan gue buktikan dan nyadarin Gabriel. Kak Lintar dibunuh mereka. Gue yakin !” Sivia membatin panjang di dalam hati. Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah tas yang ada di ujung kasur tempat dia duduk.

“Tas ???” Gumam Sivia.

Sivia membuka tas itu dan…

‘TRINGGGG’

“Hahhhh ??? Lonceng tanah.” Sivia mundur hingga badannya sakit karena membentur dinding keras.

“Siapa yang menaruh disini ????” Sivia panik. Tiba-tiba lonceng itu memerah.

“TO…. Blupppppp…. Bluppppp…”

Cairan merah menyelimuti Sivia. Sivia berusaha melepaskan diri. Gagal. Cairan itu menyedot nafasnya. Sivia pingsan, tidak Sivia sudah tidak bernafas lagi. Cairan itu menyedot jiwa Sivia. Sivia lalu menghilang.

‘TRINGGGG’

Sekali lagi, lonceng tanah itu berbunyi. Warnanya kembali ke semula. Berwarna kuning dan kusam. Lalu tiba-tiba lonceng itu hilang tanpa bekas, sama dengan Sivia. Kamar itu menjadi saksi bisu hilangnya Sivia dan sebuah benda, yaitu lonceng tanah.

*******

Sore hari-nya.

‘CEKLEKK’

Gabriel membuka kunci pintu kamar Lintar. Nova mendesak agar mereka mengecek kamar itu lagi. Siapa tahu Lintar sudah menyerah dan tertidur dikamarnya, begitu kata Nova. Gabriel yang sedang sibuk memilah-milah foto sebenarnya sebal dengan kepala batu Nova. Bagaimana pun Lintar telah hilang, walaupun tidak ada bukti yang logis dan bisa dipertanggung jawabkan seperti kata Nova. Rio dan Dea hanya mengekor, menurut saja apa kemauan waka PPM itu.

Sepi. Kamar Lintar masih sama seperti kemarin. Tidak ada yang berubah.

“Cihh… Lapor polisi yuk. Kalau ini benar-benar keisengan Lintar, biarin aja dia kena getahnya sendiri.” Ujar Nova berdecak sebal, sebenarnya hati-nya pedih mengingat Lintar. Dia sebenarnya sudah yakin dan sependapat dengan yang lainnya, bahwa Lintar hilang. Namun hati-nya berharap itu hanya mimpi dan Lintar mucul lagi dengan kacamata yang bertengger manis di hidung mancungnya.

Gabriel, Dea dan Rio menatap Nova yang mata-nya berkaca-kaca. Gabriel memalingkan muka, takut terbawa suasana dan menangis di depan Dea. Dea pun sama, dia pura-pura sibuk merapikan kasur. Hanya Rio yang menatap dengan tatapan aneh dan sulit diartikan. Dea heran, baru kali ini dia tidak bisa mengartikan tatapan mata Rio. Rio seperti orang asing baginya kali ini.

Gabriel berjalan-jalan dan mengelilingi kamar itu. Tiba-tiba dia terhenti di depan lemari besar di kamar Lintar. Rasa ingin tahu-nya mengalahkan rasa takutnya. Sekali lagi, dia ingin melihat lonceng tanah itu. Gabriel lalu membuka lemari itu pelan.

‘Kreekkkkk…’

Gabriel melotot. Mencoba mencari sesuatu.

“Kak, loncengnya….” Panggil Gabriel tertahan. Semua menghampirinya. Lalu kompak menatap apa yang ditatap Gabriel.

“Loncengnya gak ada !!” Seru Nova. Muka-nya ngeri. Dea merinding.

“Sivia… mana Sivia ??” Tanya Nova terbata.

“Di kamarnya. Gue panggilin.” Kata Gabriel dan berlari keluar kamar, menuju kamar yang paling pojok sebelah kanan. Tiga orang tersisa saling bertatapan, sedetik kemudian pikiran mereka sama, secepatnya keluar dari kamar ini. Mereka lalu berlari menyusul Gabriel.

“Gimana ?” Tanya Rio.

“Terkunci.” Kata Gabriel yang terlihat panik. Dea mendekap mulutnya. Takut terjadi apa-apa dengan Sivia.

“Kunci cadangan bukannya ada sama lo ?” Tanya Rio. Gabriel menepuk jidatnya lalu berlari ke depan pintu kamar Lintar dan menarik kunci yang tegantung dan berjumlah sangat banyak.

“Sivia… Sivia… Buka pintunya.” Nova berteriak memanggil Sivia. Dea membantu menggedor-gedor pintu kamar Sivia. Hasilnya : NIHIL. Tidak ada jawaban dari dalam.

“Buruan, Yel !” Perintah Nova. Gabriel mencoba beberapa anak kunci namun selalu tidak cocok. Setelah anak kunci yang ke-6.

‘CEKLEKK’

“Berhasil !” Seru Gabriel lalu membuka pintu. Semua lalu berjalan masuk secara teratur.

“Gak ada !” Ujar Dea histeris. Ini benar-benar sudah keterlaluan bagi-nya.

“Cari ! Sivia orangnya suka bercanda.” Kata Nova dengan muka tegang.

Semua menurut. Semua langsung menyebar di kamar. Lemari menjadi sasaran utama terlebih dahulu. Sayang, tidak ada apa-apa disana. Dibawah tempat tidur pun tidak ada. Kamar mandi kosong. Benar-benar tidak ada sosok Sivia dalam kamar itu.

Gabriel dan Rio lalu mencari Sivia di luar kamar. Ruang depan, dapur, kamar-kamar, halaman depan dan belakang, dan sebuah gudang. Untuk tempat yang terkahir disebut, mereka berdua juga cengo dan baru tahu keberadaan gudang di lantai bawah. Seperti ruang bawah tanah. Gudang itu kosong. Ada pentilasi besar di ujung gudang. Gabriel melongok-kan kepalanya, gudang itu rupanya tembus ke luar villa. Jauh dibawah villa. Gudang ini semacam jalan rahasia. Tapi, tetap saja tidak ada sosok Sivia. Satu kalimat : SIVIA BENAR-BENAR HILANG.

Seolah mempunyai pikiran dan kekuatan telepati. Mereka berdua lalu berlari untuk kembali ke kamar Sivia. Mereka mengkhawatirkan orang yang sama, Dea.

“Bagaimana ?” Tanya Nova yang sadar dari lamunannya ketika dua sosok ngos-ngosan muncul. Dua cowok tersebut kompak menggeleng lalu menatap Dea yang sedang berdiri di dekat jendela. Keduanya lantas menghembuskan nafas lega secara bersamaan.

“Sekarang kita bagaimana ?” Tanya Gabriel.
Nova terlihat berpikir. Lama. “Kita keluar dari villa ini. Kita kerumah pak Duta dan telepon polisi.” Putus Nova akhirnya. Semua mengangguk setuju.

“Bereskan barang-barang kalian. Dan tolong bereskan barang-barang Lintar. Barang-barang Sivia biar kakak dan Dea yang urus.” Perintah Nova. Gabriel dan Rio menurut lalu hendak berjalan pergi keluar, meninggalkan Dea dan Nova.

Dea menatap ujung kasur lama. “Tas ??” Kata Dea keras. Semua menatapnya dan melihat tas yang dimaksud.

Dea membuka tas tersebut. ‘BRAKKK’ Tas itu terbanting di lantai oleh Dea. Rio menghampiri Dea dan merangkul pundak Dea. Rio seperti mendesis dan berkata ‘Jangan’ entah apa maksudnya.

Gabriel dan Nova melongok, mencoba melihat isi tas.

“Lon… Lon… Lonceng…” Kata Gabriel gagap. Tanpa komando mereka berlari keluar kamar. Dan Nova masih sempat mengambil tas Sivia yang ada di dalam lemari seadanya. Ada tiga tas disana. Nova mengambil yang paling besar.

*******
“Hosh… Hosh… SIAL !!!!” Gabriel ngos-ngosan. Dia ada diruang depan bersama yang lainnya.

“Cepat ambil barang kalian dan berkumpul di halaman.” Perintah Nova
lalu dia beranjak pergi. Gabriel termangu, kali ini dia tidak berhasil menahan air matanya.

“Kak Gabriel…” Dea mendekati Gabriel yang menunduk dan menangis. Rio tidak bergeming. Dia hanya diam membisu.

“Aku bego, aku gak bisa diandelin, aku gak bisa jagain Sivia dan kak Lintar dan aku juga gak bisa jagain kamu. Aku…” Gabriel memaki dirinya sendiri. Gabriel tidak kuat lagi. Dia sudah menangis hebat. Punggungnya bergetar.

“Ga, kak. Kakak gak bego, kakak juga bisa diandelin. Yang salah bukan kakak tapi lon.. lon.. ceng..” Dea tidak sanggup menyebut kata yang terakhir. Gabriel memandang Dea lama. Air mata-nya sudah bisa diatasi.

“Ini semua gara-gara lo !” Gabriel menunjuk kasar ke arahnya Rio yang berdiri di dekat sofa dan diam.

“…”

“Lo yang buat rencana ini ! Lo yang ngenalin gua itu. Dan elo yang membuat Sivia dan kak Lintar hilang. Lo Pem… pem… LO PEMBUNUH !!” Cecar Gabriel dengan kemarahan yang meledak.

“Pembunuh ? Asal lo ingat lagi, gue udah melarang supaya kita gak masuk ke dalam gua itu dan satu hal lagi, gue emang yang merekomendasikan tempat ini melalui Dea tapi kenapa lo semua setuju ?? Hahh ?? Jawab gue ! Apa gue salah ?” Rio bergerak mendekati Gabriel dengan mata menantang.

Dea paham dengan apa yang terjadi berikutnya. Dea menahan Rio dengan sekuat tenaga. Dea tidak ingin ada perkelahian disana.

“Minggir, De. Aku mau menghajar orang itu.” Rio menyingkirkan tangan Dea dengan kasar dari pundaknya yang ditahan Dea. Dea terbanting ke sofa.

“De…” Rio membantu Dea berdiri.

“Rio… kamu bukan Rio. Rio gak pernah kasar sama aku. Hiks.. hikss..” Cengeng-nya Dea muncul lagi. Rio menyesali perbuatannya tadi. Gabriel menatap adegan di depannya.

“Ayo, De. Kita beresin barang-barang dikamar.” Gabriel menarik tangan Dea dan menggiringnya ke atas. Rio diam terpaku. Dea menatap Rio dari tangga, Rio juga tiba-tiba menatapnya dengan tatapan permohonan maaf. Dea cepat-cepat menggerakan lehernya ke depan lagi. Dia takut dengan tatapan mata Rio.

“Maaf, aku gak akan meneruskan misi ini lagi.” Gumam Rio. Lalu pergi menuju kamarnya juga.


*******


“Sialan, kenapa gue tadi nangis di depan Dea ?!!!” Gabriel menoyor kepalanya sambil membereskan barang-barangnya. Setelah baju-bajunya berhasil masuk kedalam tas. Gabriel berjalan menuju meja di kamar tersebut. Laptopnya masih menyala dan tersambung dengan kamera-nya.

“Gagal semua acara liburan ini.” Gabriel kembali misuh-misuh sambil membereskan meja itu. Tiba-tiba matanya tertuju ke laptop dan Gabriel mengeklik-nya dengan mouse kecil. Terlihat foto Dea hasil nyolong pose oleh Gabriel saat mereka sedang berada di depan gua lonceng. Gabriel tersenyum lalu kembali menekan mouse, bermaksud melihat-lihat foto Dea yang lainnya.

Gabriel terpaku. “Gak ada !! Berarti dia…” Tenggorokan Gabriel tercekat. Tubuhnya merinding menatap foto yang ada di laptop-nya.

Dengan kesadaran penuh, dia cepat-cepat menghidupkan printer yang memang sengaja dibawa-nya dalam acara liburan kali ini. Dicetaknya foto tersebut. Lalu Gabriel cepat-cepat membereskan barang-barangnya. Setengah berlari karena beban yang dibawanya, Gabriel keluar kamar dan menutupnya dengan keadaan panik. Dia menuju kamar Nova yang ada di pojok kanan, tepat di sebelah kamar Rio dan Sivia, yang mengapit kamar-nya.

‘JEBLAKK’

“Gabriel !!!” Nova yang sedang sibuk memasukkan pakaiannya kedalam tas besar di kasur kaget setengah mati dengan suara pintu yang menjeblak kasar. Dilihatnya sosok Gabriel dengan muka panik dan ngos-ngosan.

“Lo bikin kaget kakak aja. Ngapain sih pakai acara buka pintu kasar ?!” Sungut Nova sebal. Gabriel berjalan dengan cepat ke arahnya.

“Lihat ini !” Gabriel menyodorkan foto yang baru saja dicetaknya tadi.

Nova terbelalak. Dia menatap foto tersebut dengan mata melotot, seakan-akan tidak percaya dengan penglihatannya. Sekali lagi Nova mencoba menatap foto itu, dipejamkannya mata lalu kembali melihat foto tersebut. Tidak ada yang berubah.

“Jadi, dia….” Nova tergagap. Gabriel mengangguk, paham dengan maksud Nova.

“Sekarang kakak percaya kan dengan persembunyian dewi ini ?” Tanya Gabriel dengan sorot mata tajam. Nova mengangguk.

“Kita lari dari sini secepatnya !” Nova menarik tangan Gabriel dan membawa tas-nya. Gabriel juga sama.

Mereka berlari hingga ke depan pintu ruang depan. Pintu masuk villa. Nafas mereka tersengal. Satu hal yang ada dipikiran mereka. LARI ATAU MATI ! Tiba-tiba Gabriel berhenti berlari. Tepat di luar villa.

“Dea !” Seru-nya. Gabriel baru ingat Dea masih ada di dalam villa.

“Kita gak bisa kesana lagi, Yel. Lo mau mati ?” Ujar Nova gusar. Ketakutan akan kematian membuat-nya egois. Ini bukan pribadi Nova.

“Gak bisa kak, gue harus nemuin Dea. Gue akan bawa dia kesini dan pergi bersama kita. Gue akan buktiin apa yang gue bilang itu benar. Foto ini harus gue kasih lihat ke Dea.” Ujar Gabriel panjang lalu balik badan.

“Nova menarik tangan Gabriel. “Gue ikut.” Ujar Nova mantap, pribadinya telah kembali. Mereka berlari lagi hendak masuk ke dalam villa tapi…

‘TRINGGGGG’

“Lonceng tanah !!!” Seru Nova. Lonceng itu memerah dan berada tepat ditengah-tengah pintu masuk villa. Cairan merah keluar dari lonceng itu.

“LARI !!!” Seru Gabriel.

Tapi terlambat, Nova sudah diselubungi cairan merah itu, Gabriel akhirnya melihat secara langsung bagaimana proses hilangnya teman-temannya satu persatu. Nova terhisap kedalam lonceng itu beserta tas yang dia bawa. Tanpa jejak. Gabriel berlari pontang-panting memasuki villa, menyelamatkan diri dari lonceng tanah itu.

‘TRINGGGGGG’

*******


“Dea !!”

“Rio ??? Kamu kenapa ?” Dea kaget. Dia terkejut dengan kedatangan Rio yang tiba-tiba plus muka-nya terlihat pucat dan panik.

“Kita harus pergi dari sini sekarang ! Cepat !” Rio berseru keras. Ditariknya tangan Dea.

“Tas aku !” Dea melepas tangan Rio dan mengambil tas-nya.

“Dea…” Panggil suara lain. Itu suara Gabriel.

“Kak Gabriel ?” Dea kembali dibuat kaget oleh kedatangan orang dengan muka pucat.

“Ehh, kebetulan ada lo, Yo. Bisa temenin gue ke gudang bawah ? Gue tadi seperti melihat bayangan Sivia.” Kata Gabriel setelah melihat sosok Rio di kamar Dea.

Rio terlihat menatap tajam ke arah Gabriel. “Oke.” Ujar Rio dingin.

“Dea ikut.” Kata Dea.

“Kamu disini aja. Kami gak bakal lama kok.” Tahan Gabriel.

“Tapi…” Dea ingin memprotes.

“Sstt… berisik banget sih, aku tahu kamu gak bisa pisah dari aku, tapi tolong biasa aja. Kamu tunggu disini ya. Duduk manis. Jangan kemana-mana.” Kata Rio cengengesan. Lalu dia keluar bersama Gabriel. menuju gudang bawah.

“Tadi… Rio… itu tadi Rio. Tapi tadi Rio gak kayak biasanya. Dia kenapa bisa berubah-ubah ???” Dea heran dengan perubahan sikap Rio dua hari ini. Dia kadang menjadi pribadi yang Dea kenal, tapi kemudian bisa jadi pribadi yang asing bagi Dea. Dea lalu memutuskan untuk mengikuti dua orang yang sedang menuju gudang bawah tersebut. Dea membututi mereka diam-diam.


*******

“Lo intip dulu deh, gue jagain disini.” Ujar Gabriel. Mereka sekarang berada di dekat tangga menuju gudang bawah. Gabriel memberi ruang untuk Rio agar bisa masuk. Pintu di dekat tangga itu sempit.

Rio berjalan, menuruti apa kata Gabriel. Mereka berdua tidak menyadari ada sosok Dea yang mengekor dan mengintip diam-diam dibelakang mereka.

Tiba-tiba…
‘DUK…. GUBRAKKK’
“RIOOOOO !!” Dea berteriak histeris. Rio didorong Gabriel dan tubuh Rio terpontang-panting di tangga. Lalu menghilang di bawah tangga. Tidak ada suara. Keadaan gudang bawah itu agak gelap. Hanya pentilasi yang memberikan sinar.

“RIOOOO !!! GAK !!!” Dea menangis dan menjerit secara bersamaan. Dea memaksa turun, tapi Gabriel menahannya.

“LEPASIN AKU !!! LEPASIN !!! KAK GABRIEL KEJAM !!!!” Dea meronta-ronta. Gabriel sekuat tenaga menahannya.

“DEA…DEA !! TENANG !! AKU GAK KEJAM !! DIA YANG KEJAM !! DIA ITU PEMBUNUH !! KAK NOVA JUGA DIBUNUHNYA !!” Gabriel berteriak lantang. Mencoba mengatasi suara tangisan keras Dea.

“BOHONG !! RIO BUKAN PEMBUNUH !! KAKAK YANG PEMBUNUH ! KAKAK YANG MEMBUNUH RIO !! DEA BENCI KAKAK !!” Ujar Dea tidak kalah keras.

“STOP !! Dea lihat ini ! LIHAT !!” Gabriel memaksa kepala Dea agar melihat foto yang ada ditangan kirinya. Dea bergeming. Tangisnya berhenti. Gerakan meronta-nya pun berhenti.

“Ini….” Ujar Dea. Dea tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Ini benar. Dia gak ada Dea. Rio gak ada dalam foto kita. Kamu ingat kan kapan kita berfoto ini ? Ini foto kita saat keluar dari gua lonceng itu. Lihat ! Lihat ! Seharusnya ada dia kan diatas bersama kita. Lihat foto ini, dia gak ada. Dia gak nampak. Dia yang menyebabkan persembunyian dewi. Dia….”

“GAK !! Ini rekayasa ! Minggir, kak.” Dea mendorong Gabriel dengan kasar. Gabriel tersudut di dinding dan Dea berhasil lepas dari genggamannya.

“DEA KITA HARUS KELUAR !!” Seru Gabriel. mencegat Dea yang sudah turun tangga.

“Kakak silakan duluan keluar. Dea mau lihat Rio. Kalau kakak memang mau pergi sama-sama dengan Dea, tunggu Dea diluar.” Kata Dea lalu menghilang dibawah tangga.

“Cihh…” Gabriel membuang ludah kesal. Lalu dia menuruti mau Dea. Gabriel pergi meninggalkan gudang itu dan berlari menuju pintu depan, keluar dari villa.


*******

“Rio…” Dea mendapati Rio sedang terduduk dan memegang kaki-nya. Sepertinya kesakitan. Dea menghampiri Rio.

“Kenapa datang ? Sudah lihat fotonya kan ?” Tanya Rio dengan tatapan sendu khas-nya. Dea terdiam.

“Trik kayak gitu bisa dibuat.” Ujar Dea sambil mengusap-usap kaki Rio yang sedari tadi dipegangnya. Dea mengurut kaki Rio.

“Kalau bukan trik..”

“…”

“Kalau aku bukan manusia ?” Rio menatap mata Dea. Jantung Dea deg-degan. Antara terkejut karena mukanya terlalu dekat dengan Rio atau takut mendengar apa yang dikatakan Rio.

“Jangan bercanda deh, aku kan udah tahu Rio dari kecil. Rio itu sama kayak Dea. Rio manusia.” Ujar Dea seraya bangkit. Dia takut jantungnya jebol bila berlama-lama di dekat Rio.

“…” Rio menatap punggung Dea lalu ikut berdiri.

“Kita harus keluar dari sini.” Kata Dea dan bermaksud pergi menuju tangga. Tapi tangannya ditarik Rio.

“Kita lewat sini aja.” Kata Rio sambil memandang pentilasi yang besar di hadapan mereka.

“Emang muat ??” Dea menatap bingung. Dia lalu memegang-megang perutnya, bermaksud mengukur apakah dia layak untuk lewat pentilasi itu tanpa terjepit. Rio tersenyum melihat tingkah Dea. Rio kangen saat-saat berdua dengan Dea. Tapi ada satu hal yang lebih penting. Dea harus keluar dari tempat itu.

“Udah jangan ngukur-ngukur badan kayak gitu. Muat kok. Dea naik duluan deh. Sini Rio bantu.” Ujar Rio lalu berjongkok, menyuruh Dea untuk naik ke atas bahunya.

“Maaf ya kalau berat.” Kata Dea lalu naik ke bahu Rio agar bisa mencapai pentilasi yang agak tinggi untuk ukuran badan Dea yang kecil. Rio terkekeh sambil berjongkok.

‘TAPP’

Dea berhasil keluar dari pentilasi dan telah berada diluar villa. Rio menyusul Dea, dia memanjat pentilasi itu dengan mudah.

“Huppp.” Rio telah keluar dari villa itu juga.

“Kita tunggu kak Gabriel dulu ya.” Kata Dea. Dia melihat sosok Gabriel berlari ke arahnya dari kejauhan.

“Hosshhh… Hosssshhh.. Ayo pergi.” Kata Gabriel dengan nafas tersengal-sengal habis berlari.

“Kak Nova mana ?” Tanya Dea bingung.

“Sudah dimakan lonceng tanah.” Kata Gabriel dengan tatapan tajam ke arah Rio. Rio diam sorot mata-nya tiba-tiba berubah menjadi tidak bersahabat. Gabriel merasakan perubahan tersebut. Dia bergidik ngeri. Tiba-tiba terdengar…

‘TRINGGGGG’
“KAK GABRIEL AWAS !!!” Teriak Dea histeris.

Tepat dibelakang Gabriel berdiri lonceng tanah itu memerah dan mengeluarkan cairan merahnya. Dea pun menyaksikan proses menghilang-nya kaki Gabriel.

“DEA… BLURRPP… BLURRPP AKU CIN….” Gabriel ingin mengatakan sesuatu. Terlambat. Dia sudah tersedot ke dalam lonceng di depan mata Dea dan Rio.

“AYO LARIII !!” Teriak Rio lalu menarik tangan Dea. Dea berlari dengan keadaan menangis. Mereka lalu menghilang dibalik hutan. Mereka berlari menuruni gunung untuk menuju rumah pak Duta.

‘TRINGGGGG’


*******

“Lonceng… lonceng memerah… cairan merah…” Dea berlari dengan begitu banyak pikiran. Rio yang menariknya di depan terlihat pucat sekaligus panik. Dea memandang Rio.

“AKU INGATTT !! Dua tahun yang lalu aku pernah kesini bersama papa, mama dan Rio.” Teriak Dea dalam hati.

--flash back 2 tahun yang lalu mode : on--

Dea dan Rio berjalan menaiki gunung. Mereka sekarang berada di depan sebuah gua yang tersegel.

“Jangan Rio ! Kayaknya nyeremin.” Dea bergidik ngeri sekaligus menahan tangan Rio agar tidak masuk kedalam gua.

“Dea penakut sih ! Ya udah Dea tunggu disini aja.” Kata Rio sambil menoyor pelan kepala Dea. Kebiasaan-nya.

“Eitt… tunggu aku ikut.” Teriak Dea dan berlari menyusul Rio.

“Ayo !” Rio tersenyum senang lalu menggandeng tangan Dea.

Setelah masuk kedalam, dan sampai diujung gua.

“Loh ? Cuma lonceng ?” Rio menatap heran lonceng yang tersorot cahaya kamera handphone-nya.

‘TRINGGGG’

Tiba-tiba lonceng itu berbunyi dan memerah. Lalu keluar cairan merah yang dengan ganas menyerbu Rio.

“RIOOO !!” Teriak Dea histeris. Setengah badan Rio sudah tertelan loceng itu.

“Lari Dea ! Cepat lari ! Lari sejauh mungkin, jangan pedulikan aku !” Teriak Rio.

“Tapi !!” Dea masih disana. Berusaha menggapai tangan Rio.

“LARIII !” Teriak Rio lagi. Dea menurut. Dia berlari meninggalkan Rio.

“DEA AKU SAYANG KA…. Blurrppppp… blurrpppp.. MU.” Dea masih sempat mendengar suara Rio yang bergema di dalam gua. Dia terus berlari dan berlari. Hati kecilnya berharap ada suara Rio lagi. Tapi tidak ada. Hingga Dea sampai di ujung gua suara Rio sudah tak terdengar lagi. Saat Dea melangkah keluar gua dia tidak ingat apa-apa lagi. Dea pingsan.


--flash back 2 tahun yang lalu mode : off--


*******

Dea melepas tangan Rio dengan kasar. Tangan yang mengenggamnya itu terbanting. Dea berhenti. Rio juga. Mereka saling bertatapan.

“Sudah ingat ya ?” Tanya Rio dengan sorot mata senduhnya.

“I…ii… iya..” Jawab Dea ketakutan. Rio tersenyum getir memandang Dea yang ketakutan. Dia berjalan menuju tempat Dea. Dea terpaku. Antara ingin lari sejauh mungkin dari Rio atau tidak. Dia takut.

“Waktu itu aku dimakan olehnya. Makanannya adalah manusia. Semua dilahap dan karena gak ditemukan mayatnya, maka lahirlah legenda persembunyian dewi…” Kata Rio masih dengan tatapan yang sama.

“Rio…”

“Bukan. Aku adalah salah satu dari bagiannya. Aku bergerak menurut kemauannya…”

“Bohong. Itu bohong !”

“Dia lapar. Setelah peristiwa yang menimpa aku, gak ada lagi yang mau mendekat ke gua itu. Lalu… tugasku mengajak kalian kehadapannya. Dia menyuruhku mengajak kamu yang hampir termakan dua tahun yang lalu. Aku tak bisa melawan dan…” Rio tercekat.

“…” Dea mendekap mulutnya. Takut sekaligus kaget dengan cerita Rio.

“… Dan lagipula aku ingin bertemu dengan kamu sekali lagi sebagai ‘Rio’.”

“Rio.” Dea bergumam dalam hati. Dea menangis. “Kenapa, kenapa aku bisa lupa ?” Tanya-nya dengan air mata meluncur deras.

“Dia menghapus ingatan kamu tentang kejadian di gua dua tahun yang lalu.”

‘TRINGGGGGGG’

Suara locnceng terdengar lagi. Tapi kali ini suara itu berasal dari Rio. Tubuh Rio.

“JANGAN ! JANGAN DEA !!” Teriak Rio. Tubuhnya tiba-tiba memerah dan mengeluarkan cairan merah.

“Rio…”

“JANGAN LIHAT DEA. LARILAH !! CEPAT PERGI !!” Ujar Rio sambil terduduk ditanah. Menahan diri agar tidak mendekati Dea.

“…” Dea terpaku. Air matanya berhenti. Dia menatap Rio dan berjalan menghampiri Rio.

“GAK ! CEPAT LARI !” Usir Rio tapi terlambat. Dea sudah terduduk di depannya dan memeluk Rio erat. Mereka berada di pinggir gunung. Di bawah terdapat jurang namun tidak terlalu dalam.

“Gak. Gara-gara aku lari 2 tahun lalu Rio jadi tersiksa sendiri… kak Lintar, kak Nova, kak Sivia dan kak Gabriel juga, mereka jadi begitu gara-gara aku. Aku harus ada disini bersama Rio….” Kata Dea tepat ditelinga Rio.

“Dea…” Rio membatin dalam hati. Lalu…

‘DUKKKK’

“Aaaaaaaaa……. RIOOOOOOOOOO !!!” Teriak Dea. Dia sudah terjun bebas ke bawah jurang. Rio mendorong Dea saat kesadarannya sebagai ‘Rio’ belum hilang.

Seperti anggota PPM yang menghilang. Rio juga kembali tertelan kedalam lonceng. Namun sebelum dia tertelan sepenuhnya Rio bergumam..

“Maaf Dea. Aku gak mau kamu bernasib sama dengan aku. Kalau pun kamu harus meninggal kamu harus meninggal dengan jasad kamu yang utuh. Tidak seperti aku. Dan kamu harus tenang di alam sana. Tidak seperti aku. Kalau kamu ditakdirkan untuk tetap hidup kamu harus bertahan dan berjuang, kamu harus berjuang hidup demi aku. Aku mencintaimu.”

‘TRINGGGGG’

Suara lonceng itu sekali lagi terdengar. Dan Rio pun menghilang bersamaan dengan munculnya lonceng tanah yang kembali berubah menjadi warna kuning-kusam.



-- THE END --

Tidak ada komentar:

Posting Komentar